Peran Ormawa dalam Pemilihan Direktur PoliMedia

Oleh Muhammad Syahid

Wakil Ketua BEM PoliMedia 2016

Pemilihan Direktur PoliMedia yang sebentar lagi akan berlangsung, tampaknya “adem ayem” saja di lingkungan mahasiswa. Tidak ada hingar bingar politik kampus yang menghangat seiring semakin dekatnya tanggal pemilihan, begitu juga dengan wajah calon-calonnya yang tak saya jumpai di papan reklame atau mading. Padahal, setahu saya, ada beberapa orang yang sudah resmi mendaftarkan diri. Website kampus, akun media sosial ormawa, hingga lembaga pers mahasiswa, sepertinya sepi dari informasi seputar pemilihan direktur.  Setidaknya, itulah yang saya rasakan sebagai mahasiswa biasa.

Lantas saya jadi bertanya, apakah memang seharusnya demikian? Apakah pemilihan direktur itu hanyalah urusan manajemen dan birokrat kampus? Apakah mahasiswa tidak memiliki peran apapun terhadap pemilihan orang yang akan menentukan masa depan kampus kita ini? Memang, pemilihan pemimpin perguruan tinggi negeri seperti lazimnya dilakukan di kampus manapun tidak melibatkan mahasiswa secara langsung. Jika melihat Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi No. 19 Tahun 2017 Pasal 9, hanya ada dua pihak yang memiliki hak suara dalam pemilihan direktur atau rektor, yaitu senat (65% suara) dan menteri atau tim penilai dari Kemenristekdikti (35% suara).

Menurut saya, tidak dilibatkannya mahasiswa secara langsung dalam pemilihan direktur jangan lantas membuat proses demokrasi di lingkungan mahasiswa menjadi sepi. Bila suasana panas dalam kompetisi merebut kursi direktur hanya dirasakan oleh para calon dan birokrat kampus saja, setidaknya, mahasiswa bisa merasakan juga atmosfernya dengan mengenal calon-calon direkturnya. Mahasiswa berhak untuk tahu siapa dan seberapa kredibelnya calon-calon direktur, mengenal bagaimana trade recordnya, menilai bagaimana pandangan dan visi-misi calon direktur.

MPM, BEM, dan HIMA agaknya tidak boleh larut dalam euforia event kampus, para pejabat mahasiswa ini seharusnya berperan dalam mengawal jalannya pemilihan direktur. Kalau para calon direktur tidak merasa berkepentingan untuk memperkenalkan diri kepada mahasiswa karena tidak berpengaruh apapun, maka para pejabat mahasiswa yang duduk di tiga organisasi inilah yang berkewajiban untuk mengenalkannya kepada mahasiswa. Hal yang saya sebutkan di atas adalah yang terjadi sekarang, isu pemilihan direktur di lingkungan mahasiswa “adem ayem” saja. Kalaupun ada obrolan tentang pemilihan direktur, hanya sebatas desas desus tentang siapa calonnya. Informasi yang didapat pun hanya berasal dari mulut ke mulut. Jadi, jangankan mahasiswa dapat mengenal dan menilai, lha, nama-nama calonnya saja tidak tahu.

Baca juga: BEM PoliMedia Menuju Sistem Presidensial

Di sinilah organisasi mahasiswa (ormawa) seperti MPM, BEM, dan HIMA harus mampu menjembatani mahasiswa dengan manajemen kampus. Bukan saja mengenalkan para calon kepada mahasiswa, tetapi juga mampu menangkap apa yang menjadi keresahan dan harapan segenap mahasiswa PoliMedia untuk disampaikan kepada calon-calon direktur. Maka, jika mau lebih revolusioner lagi, undanglah para calon direktur untuk menyampaikan visi-misinya di hadapan mahasiswa. Dengan begitu, mahasiswa dapat mengenal dan menilai visi-misi calon direktur atau bahkan menyampaikan aspirasinya kepada para calon. Ya, meskipun di kampus kita ini sepertinya belum menjadi tradisi, tetapi setidaknya, inilah bagian dari pendidikan politik yang bisa kalian kenalkan kepada mahasiswa.

Organisasi mahasiswa bisa memanfaatkan momen pemilihan direktur ini sebagai ajang mengedukasi mahasiswa agar peduli terhadap isu-isu kampus. Selama ini bukankah kalian mengeluhkan betapa apatisnya mahasiswa PoliMedia terhadap kampusnya sendiri? Boleh jadi, apatisnya mahasiswa disebabkan oleh kegagalan ormawa dalam menjembatani mahasiswa dengan manajemen kampus, seperti pada pemilihan direktur saat ini.

Jangan sampai, isu pemilihan direktur ini hanya dijadikan sebagai kajian internal organisasi saja, yang tidak akan berarti apa-apa bila tidak diforumkan dengan mahasiswa. Jika itu terjadi, maka yang memiliki kepekaan terhadap isu kampus hanya orang-orang itu saja, parahnya lagi, bila hanya dikaji oleh anggota ormawa dalam divisi yang terkait dengan urusan kampus. Akhirnya, kehidupan berorganisasi dan berdemokrasi di kampus kreatif ini tak kunjung menunjukkan hasil yang progresif,  terus saja menjadi kampus sepi, yang ramai hanya bila ada acara-acara musik.d

Editor: Shara Nurachma