5000 Mahasiswa Tuntut 3 Tahun Kinerja Jokowi – JK

majalahketik.com – Jumat, 20 Oktober 2017, Aliansi BEM Seluruh Indonesia berkumpul untuk menyuarakan pendapat dalam satu gerakan. Sekitar Jalan Merdeka sudah dipenuhi dengan berbagai warna almamater. Aksi dimulai pukul 13.30 WIB dengan upacara di kawasan Patung Kuda, lalu dilanjutkan dengan longmarch. Setelah itu, terdapat pembukaan orasi yang disampaikan secara bergantian oleh presiden mahasiswa. Selama orasi berlangsung, seluruh mahasiswa memadati jalan dan saling bergandengan tangan untuk merapatkan barisan.

Tidak hanya mahasiswa dari universitas di Jabodetabek saja, aksi ini juga didatangi oleh mahasiswa dari universitas di luar Jawa Barat bahkan luar Pulau Jawa seperti, Universitas Diponegoro, Universitas Riau, Universitas Mataram, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Lampung, dan masih banyak lagi. Menurut Andy Setya Utama, Koordinator Media BEM Seluruh Indonesia, terdapat 70 universitas yang hadir dan 5000 mahasiswa yang berkumpul. Semakin sore, semakin banyak mahasiswa berdatangan, hingga seluruh akses jalan baik menuju Monas maupun sebaliknya tertutup total.

 

pic 1

 

Beberapa tuntutan yang disampaikan mahasiswa dalam aksi ini, yaitu Turunkan kesenjangan ekonomi, Wujudkan kedaulatan rakyat, dan Tegakkan supremasi hukum.  Keluhan juga disampaikan oleh Presma Universitas Riau, “Janjinya, Jokowi akan mengusut tuntas kasus kebakaran hutan yang ada di Riau, tapi hari ini Jokowi ingkar janji.” Ujarnya. Lain halnya dengan Presma Universitas Diponegoro yang menyampaikan orasinya, yaitu “Saat ini, premium telah hilang dan listrik bersubsidi telah dicabut. Kembalikan martabat negara, kembalikan aset pertambangan milik Indonesia!”. Semua yang disampaikan hanya karena ingin rakyat kembali sejahtera.

Baca juga:  Peran Ormawa dalam Pemilihan Direktur PoliMedia

Aksi ini tentu tidak berjalan lancar begitu saja, beberapa kali dihadang oleh sejumlah polisi dan jalan menuju Istana Negara ditutup menggunakan kawat besi hingga sulit diterobos. Akhirnya, langkah mahasiswa terhenti hanya sampai Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI. Namun, dengan adanya rintangan-rintangan tersebut justru membuat semangat mahasiswa semakin membara.

“Nawa Cita Duka Cita”, itulah kalimat yang tertulis pada banner dari mahasiswa. Kekecewaan terjadi saat nawa cita yang dijanjikan Presiden Jokowi – JK hanya menjadi janji manis. Keluh kesah dikeluarkan dan berharap agar pemerintah mau mendengarkan suara rakyat yang pada hari itu mereka suarakan. Ketimpangan semakin tinggi, aset-aset dikuasai oleh segelintir orang, kedaulatan yang dinawacitakan belum juga terwujud. Saat ini pemerintahan Jokowi menjadi kebal hukum, salah satunya reklamasi yang kalah di pengadilan saat ini kembali berjalan. Wildan Wahyu Nugroho selaku Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia menyampaikan satu kalimat sindiran saat diwawancara, “Negara ini bukan negara mainan, negara ini bukan negara boneka, presiden juga bukan presiden boneka. Hari ini tidak jelas arahnya ke mana dan negaranya rusak seperti ini, presidennya tidak tahu ke mana”.

Editor: Shara Nurachma

Photografer: Decika Fatmawati