Layar Tancep Balik Lagi

MajalahKetik.com – Metafora Jilid 3, Media Cerita, Film, dan Karya telah usai dilaksanakan pada tanggal 6-7 November 2017. Konsep ‘Layar Tancep’ yang digunakan kali ini sukses meramaikan Hall Tower PoliMedia. Acara tahunan dari Program Studi Broadcast kali ini bertemakan kasih sayang dan mengubah Hall Tower PoliMedia menjadi ‘unyu’ dengan nuansa pink pada dekorasinya. Selama 2 hari acara berlangsung, tidak hanya diisi dengan pemutaran film saja, tetapi juga terdapat pembicara seperti Pak Benny Kadarhariarto yang merupakan Ketua dari DSLR Cinematography Indonesia, hiburan berupa musik akustik, dan pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya di dalam Hall. Film-film yang diputarkan seperti Petualangan Sherina, Kue, Mencintai Nisan, dan Taksi pada hari pertama, lalu Turah, Jatuh, dan Istirahatlah kata-kata sebagai penutup pada hari kedua.

 

Pembicara Metafora Chapter 3, Benny Kadarharianto, Founder of DSLR Cinematografi Indonesia, Senin, 6 November 2017 1

Pembicara Metafora Chapter 3, Benny Kadarharianto, Founder of DSLR Cinematografi Indonesia, Senin, 6 November 2017

“Wow, keren banget, bisa loh ada layar tancep di hall. Kita bisa nonton bioskop bareng-bareng, satu kampus lagi, 10 prodi kumpul buat nonton bareng, gokil sih keren banget. Tertarik banget dateng ke Metafora. Suka banget Metafora 2017.” ujar Intan Destamia Putri, mahasiswi Program Studi Desain Grafis 1B yang turut hadir menikmati ‘Layar Tancep’ yang diadakan panitia Metafora tahun ini. Konsep Kasih Sayang yang diusung kali ini memiliki landasan filosofis yang kuat dan mengakar, bahwasanya kasih sayang itu tidak hanya diperuntukkan bagi keluarga atau kekasih, tetapi kepada segala hal termasuk karya seni seperti film. Penggunaan warna-warna halus seperti merah muda dan warna polkadot pada sebagian besar dekorasi mempertegas rasa kasih sayang dalam pelaksanaan Metafora Jilid 3.

Metafora Chapter 3, 6-7 November 2017 1
Achmad Ramadhan, mahasiswa Program Studi Broadcast 3A, selaku Ketua Pelaksana mengaku bahwa persiapan dari Metafora Jilid 3 ini tidak kurang dari 6 minggu dan semuanya adalah hasil kerja keras panitia. “Saya merasakan bagaimana sulitnya mendapatkan materi, bagaimana kita melobi orang yang punya karya, yang menciptakan karya ini, karena ini perlu perundingan yang baik dan publikasi yang baik, bagaimana kita meyakinkan pemilik karya ini bahwa karya mereka kita bawa ke sini dan akan diapresiasi oleh orang banyak.” Ujar Achmad. “Semuanya kita izin, baik film yang untuk keperluan komersil atau kepuasan pribadi ini kami izin, jika tidak dapat izin dari pemilik karya kami terpaksa menggantinya, kami tidak berani menayangkan bila belum mendapatkan izin.” Lanjutnya.

Baca Juga: mahasiswa-tuntut-3-tahun-kinerja-jokowi-jk

Pemandangan menarik juga tersaji di Hall Tower PoliMedia. Terdapat beberapa pedagang kaki lima yang biasa berdagang di depan kampus yang berjualan di area pelaksanaan Metafora Jilid 3. Panitia Pelaksana sengaja mengundang mereka untuk berjualan didalam. “Kami ingin membangun nuansa unik disini, seperti ‘Gimana sih layar tancep sebenernya?’, disini kami coba mengombinasikan antara pedagang kaki lima dengan pedagang modern seperti Hop-Hop, Sosis, dan lain-lain. Sebagai pemanis aja buat layar tancep kita” ujar Achmad. Semakin malam semakin banyak pedagang pulang karena telah habis dagangannya, diantara mereka ada Pak Rofi’i (45) pedagang Cimol dan Kentang Goreng yang biasa ‘mangkal’ di depan kampus, “saya itu senang udah jualan disini, bisa sambil lihat filmnya,” ketika ditanyakan apakah dagangannya telah ludes, beliau menjawab “abis semuanya, tahun depan kalo bisa diundang lagi,”. Setelah penayangan film “Istirahatlah Kata-kata” usai, ditutuplah rangkaian acara oleh seluruh Panitia Pelaksana dan berakhirlah Metafora Jilid 3 pada tahun 2017 ini. Jumpa lagi tahun depan dalam Mini Bioskop Metafora!

Fotografer: Verina Intan Lusiana

Jurnalis: Muhammad Rafi Hanif