Haruskah Mahasiswa Dididik Ala Prajurit?

Majalahketik.com(30/08/19) – Sudah beberapa hari sejak usainya Pengenalan Sistem Pendidikan Politeknik PSP2 2019. Sama seperti tahun sebelumnya, tahun ini PoliMedia merangkul Kreator Muda untuk ikut serta dalam bela Negara oleh Batalyon Zeni Konstruksi TNI-AD (Yon Zikon). Kalau tahun sebelumnya hanya sehari namun tahun ini menjadi dua hari.

Menurut apa yang ada di lapangan, 2 hari mereka di Yonzikon diisi oleh materi baris-berbaris dan dilatih langsung oleh TNI dengan pangkat masing-masing tersemat di baju lorengnya, Kreator muda diajarkan cara hormat yang benar, langkah tegap maju yang baik dan tidak ketinggalan pula jalan di tempat. Hal ini menarik perhatian saya sebagai mahasiswa dan menimbulkan tanda tanya besar, kalau dulu sampai sekarang kita berhadapan dengan TNI di jalan ketika demonstrasi, mengapa saat pengenalan lingkungan kampus kita dididik oleh mereka? Ironi? Mahasiswa di Indonesia pun jarang melaksanakan upacara bendera.

Di Panduan Umum PKKMB tahun 2019 yang dikeluarkan oleh Dirjen Belmawa terdapat poin Pembinaan Kesadaran Bela Negara dan poin inilah yang paling mendekati sebagai landasan mengapa PKKMB dididik oleh TNI, meski di panduan tersebut tidak ada tertulis secara gamblang. Bukan hanya PoliMedia, kampus tetangga, yaitu Politeknik Negeri Jakarta juga melakukan hal yang sama. Bahkan dari kabar yang saya dengar, mereka bermalam di salah satu markas TNI pula. Saya sempat berbincang dengan Kadiv Acara PSP2 2019 yaitu Anjani, ia mengatakan bahwa materi oleh TNI ini adalah murni permintaan manajemen kampus. Tapi, yang masih menjadi teka-teki adalah kenapa harus baris-berbaris? Bukankah ada cara lain untuk menumbuhkan kesadaran bela negara? Apa hanya TNI yang memiliki kapasitas untuk menumbuhkan sikap itu? Lalu, apa hubungannya baris-berbaris dan bela negara? Dan lagi yang khawatirkan bukannya tumbuh kesadaran bela negara namun akan tumbuh mental prajurit di diri mahasiswa. Mental yang hanya mengatakan ‘ya’ terhadap apapun perintah atasan atau pimpinan. Mental ini tentu bagi saya pribadi tidak bisa dibawa ke dunia kampus, mungkin akan baik apabila dimiliki prajurit, tapi tidak untuk mahasiswa. Mahasiswa seharusnya berani berbicara, berpendapat, berargumen jika benar tanpa melihat orang tersebut pimpinan atau siapapun. Pernyataan saya ini pun diamini oleh Anjani yang merupakan Kadiv Acara PSP2 tahun ini.

Hari kedua PSP2 2019 diisi dengan beberapa rangkaian acara seperti gladi upacara, baris-berbaris, materi bela Negara dan kebangsaan, serta Pendidikan Karakter. Lapangan Yonzikon 14, Jakarta Selatan. 15/08/2019

Bukan hanya mahasiswa yang merasakan, bahkan setingkat siswa pun merasakan hal yang sama. Belum lama ini, beberapa media menyoroti tentang kebijakan Mendikbud, Muhadjir Effendy yang akan gandeng TNI untuk ajarkan jiwa korsa dan nasionalisme. Lalu pertanyaannya, memang paham nasionalisme cuma punya TNI? Kebijakan itu pun dikritik keras oleh berbagai pihak, salah satunya Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji. Dikutip dari Tirto.id, Ubaid khawatir jika tujuan utamanya adalah “menanamkan nasionalisme”– termasuk upacara dan baris-berbaris, sebagaimana yang Kemendikbud sebut sebagai “contoh bentuk pembinaan nasionalisme paling mendasar”–maka nasionalisme yang akan diajarkan adalah nasionalisme doktriner, bukan nasionalisme yang dibangun berdasarkan refleksi, pemahaman mendalam, dan nalar kritis. Buruknya, seperti salah satu opini dari Dandhy Dwi Laksono, sudah tertanam di kepala kita bahwa militer lebih disiplin dan lebih nasionalis dari sipil manapun. Padahal setiap profesi punya cara disiplinnya masing-masing. Bukankah mereka yang belajar membuat suatu karya di bidang kreatif secara tekun dan terus menerus hingga jadi karya yang mengagumkan bisa disebut disiplin? Disiplin dan nasionalis bukan hanya soal baris-berbaris. Jauh lebih luas dari hadap kiri, balik kanan, atau lencang depan.

Baca juga: Penuh Antusias! Inilah Kegiatan PSP2 2019

 Pengenalan lingkungan kampus sudah seharusnya dikembalikan sebagaimana mestinya, banyak cara menumbuhkan kesadaran bela negara, banyak cara untuk disiplin, banyak cara untuk menumbuhkan sikap nasionalis. Pengenalan lingkungan kampus terutama PoliMedia yang katanya kampus kreatif harus diisi oleh kegiatan-kegiatan kreatif pula, bukannya kegiatan dan cara kolot yang sudah dari zaman Orba dilakukan. Sepertinya tidak perlu bawa embel-embel kreatif kalau disiplin masih dikaitkan hanya dengan baris-berbaris.

Di akhir, saya berharap semoga tulisan ini dapat membuat siapa saja berpikir ulang tentang konsep Bela Negara, baris-berbaris, dan pengenalan lingkungan kampus. Semoga tulisan ini dapat dibaca dan dipahami pembaca. Di tulisan ini saya tidak menyalahkan atau menyudutkan profesi tertentu. Semua profesi baik, apabila sesuai ranahnya. 

Mari diskusi dengan argumen yang sehat

Mari kembali bertanya, “haruskah kita dididik ala prajurit?”

Note: Tulisan ini merupakan opini dan tanggung jawab penulis.

Penulis : Andika Pratama P. (Anggota Divisi Aksi dan Propaganda BEM PoliMedia 2019)

Editor : Destri Rahayu Anggraeni

Fotografer : M. Jalaludin Akbar

Referensi :

Mendikbud Gandeng TNI Ajarkan Siswa Jiwa Korsa

Kemendikbud Gandeng TNI untuk Bina Siswa Tangkal Radikalisme

Mitos Tentang Militer

Panduan PKKMB 2019 Dirjen Belmawa