Follow

Direktur PoliMedia Segera Realisasikan Permintaan Mahasiswa

Jakarta (01/07/2024) Direktur Politeknik Negeri Media Kreatif (PoliMedia),Dr. Tipri Rose Kartika, MM. menggelar audiensi dengan kepala delegasi Ormawa terkait kajian Ormawa yang telah di sampaikan oleh BEM sebelumnya. Terdapat empat poin utama yang ditanyakan oleh Ormawa diantaranya persiapan student exchange, optimalisasi sarana prasarana, evaluasi dosen, dan perjalanan luar negeri.

“Melalui pertemuan ini kita bahas satu per satu yang menjadi pertanyaan BEM, terutama dalam hal pelaksaanaan kegiatan student exchange,” jelas Tipri Rose Kartika di Aula PoliMedia.

Tipri menjelaskan pelaksanaan student exchange ini akan menjadi Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi yang berbasis internasional. IKU terdiri dari kualitas mahasiswa, tenaga pengajar, dan kurikulum. IKU tersebut menjadi salah satu dari delapan indikator yang ditargetkan oleh kementerian.

Baca Juga: PoliMedia Sambut Ratusan Camaba SNBT

“Indikator pertama adalah bagaimana kualitas mahasiswa, itu dibagi lagi menjadi dua, yang pertama ialah bagaimana lulusan kita dapat pekerjaan yang layak atau dapat membangun usaha sendiri. Kedua adalah bagaimana mahasiswa kita berkegiatan di luar kampus baik secara nasional maupun internasional,” kata Tipri Rose Kartika

Selain itu, IKU juga termasuk kualitas dosen dan tenaga kependidikan yakni melakukan kegiatan di luar kampus, kemudian bagaimana dosen praktisi di dalam kampus, dan yang ketiga bagaimana hasil kegiatan dosen tersebut bisa bermanfaat untuk masyarakat pada umumnya atau memdapatkan rekognisi secara internasional. Indikator selanjutnya adalah kurikulum yang berkualitas ada tiga indikatornya yaitu bagaimana program studi bekerjasama dengan mitra kelas dunia, kelas yang kolaboratif dan pastisipatif serta program studi berstandar internasional. lanjut Tipri Rose Kartika.

Dari ketiga indikator berbasis internasional, menurut beliau internasionalisasi (student exchange) ini harus dilakukan dalam rangka memenuhi indikator kinerja perguruan tinggi. Oleh karena itu, Direktur PoliMedia akan terus melakukan peningkatan kolaborasi di kancah internasional.

“Kalau dilihat, mau ngga mau kita harus internasionalisasi, jadi kita tidak bisa menutup diri untuk tidak internasionalisasi, atau go globaly” jelasnya.

Terkait perjalanan yang dilakukan beberapa orang manajemen PoliMedia. Dalam  hal ini Direktur memberikan cuti kepada mereka yang pergi dengan pertimbangan tim bounding untuk harmonisai komunikasi organisasi kedepan, sedang tidak ada perkuliahan, sehingga tidak mengganggu layanan mahasiswa, dan bisa mendapat informasi open house dibeberapa kampus di singapura, yang dapat memberkan peluang untuk campus visit, membuka wawasan internasional tata kelola kampus di LN.

“Tidak ada keluar anggaran dari PoliMedia, jadi mereka tidak menggunakan anggaran dari PoliMedia”

kata Tipri Rose Kartika dalam audiensi.

Dirinya juga menjelaskan kalau pengurusan paspor dan pembelian tiket dilakukan sendiri-sendiri, tetapi pada saat itu memang dilakukan grouping agar dikoordinir untuk berangkat bersama. Pemberian cuti oleh jajaran manajemen juga dilakukan agar tim manajemen mampu memberikan pelayanan maksimal untuk mahasiswa.

Lebih lanjut, Tipri Rose Kartika mengatakan bahwa dokumen surat tugas yang dipertanyakan BEM adalah kesalahan administrasi, dikarenakan pengusulan penugasan dari BAKPK awalnya untuk koordinasi kedinasan dalam rangka memenuhi infornasi keterangan akreditasi program studi yang akan dilakukan di tahun 2024, sedangkan proses penerbitan surat cuti telah diproses lebih awal oleh kepegawaian. Terhadap kekeliruan administrasi tersebut telah diterbitkan pembatalan Surat Tugas tersebut.

Optimalisasi Fasilitas Akademik

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) membawa keluhan dari mahasiswa di setiap prodi terhadap fasilitas yang rusak dan tidak optimal. Tipri Rose Kartika menjawab keluhan dari setiap prodi berdasarkan apa yang sedang/sudah dilakukan manajemen.

            “Di sini ada berbagai masukan dan kritik dari teman-teman semua dari berbagai prodi, saya akan menanggapi satu-satu,” jelasnya.

            Keluhan yang disampaikan oleh mahasiswa dari masing-masing prodi di antaranya seperti stop kontak yang tidak memadai, proyektor yang kurang mendukung dalam proses belajar mengajar di kelas, kerusakan fasilitas seperti pada ubin, kaca, meja, kursi dan atap pada beberapa kelas dan lab, kurangnya alat-alat pendukung untuk praktik, dan air yang mengalir di toilet pada beberapa lantai di gedung E sangat sedikit.

Menanggapi keluhan dari mahasiswa, Tipri Rose Kartika menjelaskan bahwa semua yang telah disampaikan oleh mahasiswa melalui kajian Ormawa, akan segera direalisasikan, beberapa di antaranya sedang dan telah selesai dalam proses perbaikan.

Direktur juga menjelaskan jika ada masalah menyangkut fasilitas mahasiswa dapat langsung melapor pada Kaprodi untuk ditindaklanjuti. “Jadi kalo misalnya hal seperti itu bisa dikoordinasikan dengan kaprodi sehingga nanti Kaprodi bisa menindaklanjuti kepada Kajur, kemudian Wadir II ke jajarannya agar segera diperbaiki,” jelas Tipri.

Menindaklanjuti Secara Tegas Evaluasi Tenaga Pengajar

Menanggapi Evaluasi Dosen Oleh Mahasiswa (EDOM) yang dianggap kurang efektif, Tipri Rose Kartika  menegaskan kepada para mahasiswa agar mahasiswa menulis apa yang sebenarnya terjadi dan tidak perlu takut untuk mengkritik dosen.

“Evaluasi dosen di SIAK seperti angin lalu saja. Karena, mahasiswa merasa takut di pressure kalo menilai dosennya jelek mengakibatkan nilainya jelek, sehingga membuat khawatir mahasiswa, sebenarnya dinilai sebenarnya saja untuk perbaikan dosen-dosen tersebut,” jelas Tipri Rose Kartika.

Direktur juga menyampaikan jika dirinya telah berkoordinasi dengan Wakil Direktur bidang Akademik dan Kepala Pusat Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (P4MP) memaksimalkan EDOM tersebut.

“Saya sudah sampaikan kepada Wadir I dan P4MP, evaluasi dosen oleh mahasiswa itu salahnya diperbaiki supaya kita bisa tahu benar dosen yang mana yang kinerjanya tidak baik,” lanjut Tipri Rose Kartika.

Salah satu yang menjadi catatan bagi mahasiswa adalah bagaimana mahasiswa menilai dosen di EDOM itu sendiri. Wadir bidang Akademik, Handika Dany Rahmayanti mengatakan bahwa penilaian yang sering dilakukan oleh mahasiswa adalah 3, dari skala 1-5 penilaian tersebut dinilai masih unggul, kecuali jika mahasiswa memberi nilai 1 atau 2, maka itu menjadi bahan pertimbangan.

“Jadi kalo kebaca di sistem kami, ini kan dosen diberi penilai 1-5, jika mahasiswa memberikan nilai 3 terbacanya di sistem kami ini masih unggul dan baru terbaca kurang jika kalian memberi nilai 1, nah terkadang mahasiswa ini mungkin ragu-ragu memberikan nilai 1,” jelas Handika.

Tanggapan dari pihak manajemen direspon positif oleh Ormawa terkait dengan kajian yang telah diberikan oleh BEM tempo hari. 

“Terima kasih Ibu Direktur, Wakil Direktur beserta jajarannya yang telah menyempatkan hadir pada hari ini dan memberikan respon terhadap apa yang kami sampaikan dan harapkan.”

kata Ketua BEM PoliMedia, Syahril Alidim.

Teks : Muhammad Rafly Irsy

Editor : Abi Rama Wicaksono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts