Eksistensi Industri Fashion Hadapi MEA

Tahun 2016 menjadi tahun yang menjanjikan, karena Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah berlaku sejak 4 Januari lalu. Hal ini membuat perdagangan bebas, baik yang mencakup barang maupun jasa, antar sesama negara anggota ASEAN tidak ada batasnya lagi. Sejak kesepakatan untuk membentuk MEA sebagai satu pasar yang sama, Indonesia harus membuka tangan menerina tamu-tamu ASEAN untuk masuk dan memasarkan produknya ke Indonesia. Begitu juga sebaliknya, Indonesia diberikan kesempatan untuk masuk ke negara ASEAN lainnya. Namun, jika tidak kreatif dan tidak produktif, Indonesia akan tenggelam di negeri sendiri. Hal ini membuat segala aspek industri mulai berbenah dan berusaha untuk tidak kalah saing dalam menghadapi pasar bebas ini. Salah satu industri yang mulai memperbaiki segala aspeknya adalah industri fashion.

Menyaksikan gelagat dunia fashion Indonesia yang kian berkembang, Diana Rikasari, fashion blogger ternama, menanggapi hal ini dengan cukup santai. Menurutnya, fashion Indonesia tak akan kalah saing dengan negara ASEAN lainnya. Ia menikmati perkembangan dunia fashion di Indonesia, “Fashion Indonesia semakin seru, semakin berani, desainer lebih pede ekspor gaya-gaya baru, kualitas pengerjaan juga semakin baik.” Ungkapnya.

Di antara pecinta mode Indonesia, nama Diana Rikasari tentunya sudah tak asing didengar. Wanita yang namanya kian dikenal sebagai fashion blogger dengan cita rasa gaya yang unik, kini memperkuat citra diri sebagai seorang pengusaha muda sukses. Di tengah kesibukannya sebagai mengembangkan bisnis sepatunya dengan brand UP / www.iwearup.com, dirinya sendiri merasa siap menghadapi MEA. Baginya MEA dapat dijadikan peluang sekaligus tantangan yang positif dalam dunia fashion.

“Aku melihat ini sebagai tantangan yang positif, karena justru memacu kita agar semakin meningkatkan kualitas dan gak statis dan bertahan di zona aman.” Ujarnya.

Tantangan dan peluang tersebut terdapat pada negara-negara ASEAN yang nantinya akan menjadi kompetitor Indonesia. Seperti Malaysia, negara yang paling dekat dengan Indonesia telah sukses memposisikan dirinya sebagai pusat mode muslim dengan target pasar sebagian besar dari negara ASEAN, termasuk Indonesia, dengan mayoritas produk berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Selain itu, produk fashion Thailand yang telah diakui sangat kreatif oleh pecinta mode dunia, pemerintahnya pun mendukung produk khas negeri gajah putih ini untuk dapat mengekspor barang-barangnya ke luar negeri, termasuk Indonesia. Sehingga tentu saja bukan hal yang sulit bagi negara ini bersaing dalam kancah ASEAN. Sedangkan Wanita lulusan S2 International Business Management dari Nottingham University ini, beranggapan bahwa Singapura adalah negara yang bisa menjadi acuan Indonesia dalam menghadapi MEA. Menurutnya, Singapura telah berhasil memposisikan dirinya sebagai tujuan belanja produk barang mewah bagi penikmat fashion.

“Secara industri, aku suka Singapore. Dia negara dengan luas wilayah yang kecil, tapi begitu percaya diri dan agresif serta pandai mengemas fashion event mereka dengan tampilan yg sangat mendunia. Sometimes it’s not what you sell, but what you sell.”Tuturnya.

Indonesia sendiri tentu sangat mampu bersaing dalam pasar bebas ini, apalagi jika dapat memanfaatkan populasi serta keragaman budayanya, sehingga dapat menjadi target besar bagi para desainer fashion untuk mengeruk peruntungan di negeri sendiri. Inspirasi pun bisa datang dari Sabang sampai Merauke, yang tentu akan membuat pasar Indonesia menjadi kian menarik. Fashion event Indonesia, seperti Indonesia Fahion Week atau Jakarta Fashion Week, pun terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. “Aku sendiri terus berusaha untuk meningkatkan kualtas produk aku dan come up with new innovations.”

Diana mengungkapkan untuk dapat bersaing, pelaku industri fashion harus mampu produktif dan mempunyai visi, misi dan strategi untuk membantu perkembangan produknya. “Sedari awal harus berpikiran selangkah lebih maju. Fashion brands harus sudah tahu renvana jangka panjangnya seperti apa, gak hanya jualan dan desain, tapi punya visi, misi dan strategi yang jelas.” Tutupnya.

Oleh: Linda Juliawanti

Editor : Muhammad Syahid

Foto : liputan6.com

.