KESAL, Kegiatan Sadar Lingkungan oleh HIMA Penerbitan dan Komunitas Ciliwung Depok

Fotografer: Sinta Sofariah
Fotografer: Sinta Sofariah

Majalahketik.com (05/06/2022) – KESAL (Kegiatan Sadar Lingkungan) merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh prodi Penerbitan PoliMedia Jakarta. Ini merupakan ketiga kalinya kegiatan ini terlaksana. Kegiatan ini dilaksanakan di Sungai Ciliwung dekat Grand Depok City (GDC), Depok.

Kegiatan ini dimulai dari susur sungai, penyemaian bibit cabai, pembuatan pupuk hingga edukasi sadar lingkungan. KESAL bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dan masyarakat sekitar tentang pentingnya menjaga lingkungan dan alam sekitar. Ini juga penerapan tri dharma perguruan tinggi, yakni pengabdian masyarakat.

Mahasiswa PoliMedia yang mengikuti kegiatan ini terlihat antusias. Pihak-pihak yang berkontribusi pada kegiatan ini meliputi mahasiswa aktif dalam dan luar HIMA Penerbitan PoliMedia Jakarta dan Komunitas Ciliwung Depok. Pihak penyelenggara membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mempersiapkan kegiatan ini. Walaupun ada sedikit kendala komunikasi, tetapi itu dapat teratasi.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah membuat ecobrick, yang merupakan sampah kering atau sampah non-biological yang dipadatkan di dalam botol dan digunakan menjadi pengganti bata atau benda keras lainnya, seperti kayu. Ecobrick sendiri sebenarnya dapat digunakan untuk alas bangku, membuat rumah, dan juga blok bangunan lainnya. Mahasiswa pun sadar bahwa pemanfaatan ecobrick dapat menjadi solusi sebagai pemanfaatan kembali limbah menjadi keperluan manusia yang lainnya dan ramah lingkungan.

Baca juga: Ketupat Lebaran: Ajang Pelestarian Budaya Betawi

Selain dapat menghemat biaya pembuatan produk-produk yang disebutkan sebelumnya, mahasiswa pun bisa menjualnya. Saat ini, Ecobrick banyak dijual ke market place online. Bahkan, sejumlah bank sampah di beberapa wilayah di Indonesia pun bersedia membeli ecobrick.

Ecobrick tidak hanya asal dibuat saja, tapi ada SOP (Standar Operasional Prosedur) untuk beratnya agar kuat untuk menahan beban. Caranya, yaitu ukuran botol yang digunakan dikalikan 0,4. Misalnya, ukuran botol 600 ml x 0,4, berarti berat minimal satu botol ecobrick adalah 240 gram.

Annisa Tri Astuti atau yang kerap disapa Ica selaku Ketua Pelaksana KESAL berharap bahwa kegiatan ini bisa lebih meluas lagi, tidak hanya di prodi Penerbitan, tetapi di prodi-prodi lain di PoliMedia. Harapannya juga kegiatan ini bisa lebih memberikan impact besar pada lingkungan dan alam sekitar.

Refrensi:

Tata. (4 Des. 2018). Mengubah Sampah Plastik Menjadi Ecobrick. https://www.unika.ac.id/news/liputan-kronik/mengubah-sampah-plastik-menjadi-ecobricks/. Diakses tanggal 5 Juni 2022

Teks: Meylia Putri Irawati

Reporter: Eric Wirayudha

Editor: Rafi Alvirtyantoro

Fotografer: Sinta Sofariah

Total
0
Shares
Related Posts