Sisi Kelam Kehidupan Ibu Kota dalam “Jakarta vs Everybody”

Sumber foto: Instagram @bioskoponline

Hidup dan tinggal di ibu kota Jakarta tak seindah yang dibayangkan. Jakarta keras, Bung! Setidaknya, itulah yang dirasakan Dom (Jefri Nichol). Mimpinya sebagai aktor tidak pernah mulus. Berbagai audisi telah ia lakukan, tetapi hasilnya tidak seperti yang ia harapkan. Situasi keuangan yang semakin menipis, membuat Dom berjuang untuk bertahan hidup dengan menghalalkan segala cara.

Sebelumnya, Jakarta vs Everybody dijadwalkan tayang di bioskop. Namun, situasi pandemi yang tidak menentu membuat film yang dibintangi oleh Wulan Guritno dan Jefri Nichol itu ditunda dan bermigrasi ke platform digital. Rilis secara resmi di layanan streaming bioskop online pada 19 Maret 2022, film ini diharapkan dapat menawarkan perspektif baru tentang masyarakat kelas bawah, kejahatan, dan mimpi di Jakarta. 

Jakarta vs Everybody sendiri memiliki batas usia dewasa karena mengandung banyak adegan kekerasan fisik dan juga adegan seksual. Bagi Sobat Ketik yang ingin menonton Jakarta vs Everbody, pastikan untuk memperhatikan batasan usia dan juga peringatan pemicu (trigger warning) dalam film ini, ya!

Gelap Gemerlap Jakarta & Dongeng Ibu Kotanya

Memiliki judul internasional: Jakarta, City of Dreamers, film ini berangkat dari premis Jakarta bak Negeri Paman Sam dengan American Dream-nya yang ambisius. Dikenal sebagai ibu kota (sebelum pindah ke Ibu Kota Nusantara) dan pusat ekonomi, Jakarta memang menawarkan sejumlah peluang pekerjaan dan impian. Banyak orang berbondong-bondong merantau ke Jakarta untuk mengubah nasibnya, mulai dari biasa-biasa saja sampai menjadi luar biasa.

Sayangnya, hidup di Jakarta tak semudah membalikan telapak tangan. Bahkan, dengan berbekal niat, semangat, dan keahlian saja masih belum cukup. Terkadang, demi bertahan di tengah gedung-gedung pencakar langit ibu kota, cara-cara ‘nakal’ pun harus diambil. Hal inilah yang diangkat dalam Jakarta vs Everybody. Film ini memberikan gambaran ibu kota yang relevan dengan kehidupan penghuni-penghuninya.

Baca Juga : Setelah Penantian Panjang Akhirnya UU TPKS Disahkan

Dom merantau ke Jakarta dengan impian menjadi bintang film. Ia selalu ingin menjadi aktor, dan menurutnya, kesempatan ini hanya datang di Jakarta. Sebagai langkah pertamanya menuju industri hiburan yang gelap dan gemerlap, Dom pun memainkan peran ekstra (pemeran tambahan) dalam suatu film. 

Bermain di film nyatanya tidak seindah yang dibayangkan Dom. Menjadi pemeran tambahan membuatnya sering dijadikan sasaran perlakuan agresif para pemain utama. Awalnya, dia biasa saja. Namun, lambat-laun, dia meradang hingga akhirnya melawan. Ini pun bukan debut yang mulus untuk memulai karir Dom sebagai aktor.

Nestapa Dom tidak hanya berhenti di situ saja. Ketika ia melakukan sesi pemotretan dengan sebuah agensi, Dom dituntut membuka seluruh pakaiannya. Merasa dilecehkan, ia pun pergi meninggalkan ruangan audisi itu dengan kesal. Lelah dengan semua yang dihadapinya, Dom pun memutuskan istirahat sejenak dari impiannya. Kini, satu–satunya yang ia harus lakukan hanyalah bertahan hidup.

Suatu hari, tanpa sengaja Dom bertemu dengan suatu pasangan, yaitu Radit (Ganindra Bimo) dan Pinkan (Wulan Guritno). Karena telah diusir lantaran tidak sanggup membayar biaya sewa kontrakan, ia memohon pekerjaan, apa pun itu, dengan imbalan dapat memiliki tempat tinggal lagi kepada pasangan tersebut. Radit dan Pinkan pun kemudian mengajak Dom ke kediaman mereka di sebuah rusun. Setibanya di sana, Dom diberikan tempat tinggal yang bersebelahan dengan kediaman Radit serta Pinkan.

Kedua pasangan ini lantas menawarkan Dom pekerjaan menjadi kurir pengedar narkoba. Tak punya banyak pilihan, Dom menerimanya tanpa pikir panjang. Dari sinilah ‘konflik’ antara Dom dan Jakarta dimulai.

Mari Mengeksplorasi Lebih Dalam Tokoh Dom

Konflik pertentangan antara mimpi dan realita itu terasa nyata. Siapa pun yang merantau ke Jakarta dan termakan “dongeng” soal ibu kota tentu akan merasa relate dengan Dom.

Tentunya, jika kita melihat dengan pandangan yang besar, Jakarta vs Everybody terasa lebih dari sebuah perjuangan hidup di gelap gemerlapnya Jakarta. Film ini seolah menyatakan, susahnya mencari pekerjaan, dan besar kemungkinan untuk terpuruk dalam lingkaran bandar narkoba, serta terjerumus ke dalam dunia seks yang liar: ya, inilah Jakarta.

Jakarta vs Everybody memberikan gambaran soal Jakarta dalam tiap-tiap adegan yang ditunjukkan. Namun, hal yang terasa mengganjal dalam film ini adalah: mengapa hanya fokus pada narkoba dan seks? Tokoh Dom yang sebetulnya masih bisa dieksplorasi lebih dalam lagi. Jika diperhatikan lebih lanjut, sesungguhnya Dom adalah tokoh yang unik, terlebih lagi karena keteguhan mimpinya dan kepasrahannya yang saling terikat satu sama lain membuatnya keluar dari zona nyamannya.

Terutama saat ia sedang membicarakan mimpinya untuk menjadi aktor bersama Ratih dan Khansa, Dom terlihat seperti sedang menghilangkan asap yang menutupi mimpinya itu. Tak hanya itu, juga tampak bahwa tokoh Dom membutuhkan validasi, baik itu dari dirinya sendiri maupun dari orang lain.

Dom juga sering bertanya serius tentang arti mimpi ke orang terdekatnya. Hal ini pun lambat laun membuatnya merenung, apakah jalan yang ia jalani sekarang sudah benar? Atau, haruskah ia kembali memperjuangkan mimpinya? 

Kepiawaian film ini berjalan cukup pas dan tidak membuat bosan sehingga banyak penonton yang mungkin juga merasa sedang ikut berjuang bersama Dom, terutama saat ia menjalankan tugasnya sebagai kurir untuk mengantar barang dengan mengandalkan kemampuan akting dan intuisinya sendiri. Sang sutradara juga sering sekali seperti memberikan suatu rasa, seperti saat penonton ikut tenggelam dalam ikatan emosional yang kuat ketika Dom menjadi dirinya sendiri; atau saat penonton ikut panik ketika Dom dikejar oleh polisi.

Tak hanya tokoh Dom saja yang memikat, banyak karakter-karakter tambahan lainnya yang juga menarik. Kisah mereka saling mengisi satu sama lain dan membuat Jakarta vs Everybody makin hidup. 

Diakhiri dengan Open Ending

Jakarta vs Everybody tak hanya membawa Dom sebagai representasi masyarakat yang hidup di Jakarta, tokoh lainnya juga secara halus dibawa dan diperkenalkan bersama dengan penceritaan tentang keresahan para pemimpi ibu kota yang tidak klise.

Akhir dari film ini cukup membawa banyak arti. Istilah open ending mungkin itulah yang paling menggambarkan akhir dari Jakarta vs Everybody. Akhir tersebut didukung dengan kalimat di akhir film yang bertuliskan, “There’s always a light at the end of the tunnel” yang berarti bahwa kehidupan sebagai pecandu seks dan pengedar narkoba adalah suatu terowongan gelap yang merupakan bagian dari perjalanan Dom. Dengan Dom yang baru turun dari kereta dan celingukan ke sana kemari seperti mencari tujuan ke mana ia harus pergi, akan selalu ada cahaya untuknya.

Teks: Fathin Hilmi Muyassar & Lulu Sofiannisa

Editor: Hania Latifa & Muhammad Yazid

Total
0
Shares
Related Posts