Menakar Gaya Kepemimpinan Paslon Kabem-Wakabem Polimedia Melalui Debat Publik
Jakarta, majalahketik.com – Debat antara pasangan Calon Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Politeknik Negeri Media Kreatif (Cakabem dan Cawakabem polimedia) berhasil digelar pada Senin, 15 Desember 2025 di Hall, Gedung E Polimedia Jakarta. Debat berlangsung dengan pemaparan visi dan misi dari masing-masing pasangan calon (paslon), adu argumentasi, serta sesi tanya jawab. Debat publik cakabem dan cawakabem Polimedia menjadi momentum bagi mahasiswa untuk melihat langsung cara dan gaya kepemimpinan yang ditawarkan masing-masing kandidat.
Ketua Pelaksana Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira), Nayla Audry Sabila, menjelaskan sebelum mengikuti serangkaian acara pemilihan khususnya debat pasangan calon, mereka melakukan serangkaian penjaringan dan pemberkasan sehingga dapat mengikuti rangkaian acara pemilihan.
“Pastinya mereka melalui beberapa penjaringan dan pemberkasan terlebih dahulu, contohnya dengan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan etika yang baik,” jelas Nayla.
Nayla juga menjelaskan mereka yang terpilih menjadi pasangan calon juga telah disetujui oleh panitia pemira.
Cawakabem Polimedia nomor urut satu, Putri Natasha, menyampaikan bahwa bersama pasangannya, ia akan menerapkan gaya kepemimpinan demokratis dengan melibatkan aspirasi anggota BEM dalam setiap pengambilan keputusan.
“Untuk internal BEM sendiri kami akan mendengarkan aspirasi keanggotaan BEM, jadi mereka dapat menyuarakan pendapatnya. Nantinya kami akan mengambil keputusan dari hasil aspirasi tersebut,” jelas Natasha.
Natasha menyebutkan, nantinya mereka akan membuat perwakilan delegasi dari setiap program studi yang akan mengumpulkan setiap aspirasi mahasiswa yang disampaikan. Ia berharap nantinya ia dan pasangannya dapat mewujudkan visi misi yang telah dipaparkan.
“Harapannya semoga kedepannya kami dapat mewujudkan goals yang sudah dibuat dan dapat menjadi pemimpin yang amanah.” tuturnya.
Sementara itu, Cawakabem nomor urut dua, Muhammad Arjuna Tri Aprilianto Indikaputra, menjelaskan bahwa ia akan menyeimbangkan pendapat antara birokrasi kampus dan mahasiswa dengan cara berada di sisi mahasiswa dan bersinergi dengan delegasi polimedia sehingga mereka mampu mendapatkan titik terang yang akan dituju. Juna juga menjelaskan, jika nantinya bertentangan dengan birokrasi polimedia mereka akan melakukan diskusi dan audiensi dengan mahasiswa polimedia.
“nantinya kita akan melakukan audiensi dan mencari jalan tengah yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa polimedia,” jelas Juna.
Juna berharap dapat bekerja sama dengan sivitas kampus terkait visi misi yang telat dibuat nantinya.
“Harapannya semoga tujuan yang dirancang dapat terlaksana dengan bersinergi dan berintegrasi dengan sivitas kampus polimedia.” tutup Juna.
Gagasan Kandidat Terkait HKI dan Branding Kampus
Selain gaya kepemimpinan, debat publik juga menyoroti pembahasan terkait branding kampus. Paslon nomor urut satu menyoroti pentingnya pencerdasan terkait Hak Kekayaan intelektual (HKI) sebagai upaya mendorong citra Polimedia di ruang publik.
Natasha menjelaskan, nantinya Ia dan pasangannya akan melakukan pencerdasan dan sosialisasi terkait HKI, melalui konten instagram berjudul “SEPIA” atau seputar informasi adkesma yang akan membahas terkait HKI, Natasha juga menjelaskan kedepannya mereka akan menjembatani dan membantu dosen-dosen yang mengurus HKI tersebut.
“Kami juga akan bekerja sama dengan dosen yang mengurus HKI ini khususnya P3M, untuk membantu mahasiswa semester akhir khususnya yang membutuhkan HKI,” tegasnya.
Natasha menyebutkan terkait branding kampus ia bersama pasangannya dan keanggotaan BEM lainnya akan mengkurasi terlebih dahulu informasi yang akan disampaikan, sebelum mengunggahnya di media sosial.
“Tentunya kita akan mengkurasi kata-katanya terlebih dahulu semuanya sebelum diunggah baik itu terkait HKI, fasilitas, maupun isu lainnya, sehingga tidak mencoreng nama baik kampus Polimedia,” tuturnya.
Menurut Natasha, branding kampus dinilai belum sepenuhnya merepresentasikan identitas kampus sebagai institusi berbasis media kreatif.
Menurutnya, keberadaan 15 program studi di Polimedia yang diwakili oleh 13 Himpunan Mahasiswa (HIMA) membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk mengikuti berbagai lomba berbasis media kreatif yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat branding kampus.
“Pastinya 13 himpunan ini memiliki banyak sumber daya untuk dilombakan, kita branding lagi ke luar supaya orang-orang tau bahwa kita itu kampus media kreatif,” ucap Natasha.
Sementara itu, menurut Juna, menyampaikan publikasi hasil mediasi antara mahasiswa dan manajemen kampus di media sosial tidak dimaksudkan untuk mencoreng nama Polimedia. Menurutnya, kritik yang disampaikan merupakan bagian dari evaluasi atas permasalahan yang ada dan justru diperlukan sebagai upaya mendorong perbaikan kampus ke depan.
“Karena itu permasalahan internal kampus, sehingga kritikan itu juga berguna untuk menjadi kampus yang lebih baik kedepannya,” jelas Juna.
Juna menilai bahwa branding Polimedia masih menghadapi tantangan dari sisi pengenalan publik. Menurutnya, keberadaan Polimedia dan fokus kampus di bidang media kreatif belum sepenuhnya dikenal luas oleh masyarakat.
Mereka juga menyoroti pelaksanaan program Polimedia Goes to School (PGTS) yang selama ini lebih banyak menyasar sekolah menengah kejuruan. Ke depan, Juna dan pasangannya mendorong agar program serupa dapat menjangkau sekolah menengah atas, sehingga siswa SMA yang memiliki minat dan bakat di bidang media kreatif turut mendapatkan informasi dan peluang untuk melanjutkan pendidikan sesuai dengan minat dan bakatnya.
“Kedepannya kita juga akan melanjutkan program PGTS juga ke teman-teman SMA, karena mungkin banyak dari mereka yang memiliki minat di bidang media kreatif.” tutup Juna.
Reporter: Hanum Ayu
Redaktur: Syafaa Ainun Laita Lesmana