Listen

Ramah Disleksia

A

A

Nama Medpart

Dari Selokan Jadi Sumber Penghasilan: Inovasi Budidaya Ternak Lele Warga RT 08/RW 04 Malaka Jaya

Foto: kompas.com

Jakarta, majalahketik.com – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota yang dipenuhi dengan polusi, ada kehidupan damai dan ramah lingkungan yang diciptakan oleh warga RT 08/RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. 

Warga setempat tinggal di gang sempit yang dulunya tampak gersang dan minim ruang terbuka. Namun, semua itu berubah dengan ide inovatif yang diusung oleh Taufiq Supriadi, Ketua RT (Rukun Tetangga). Ia menciptakan budidaya ternak ikan lele di atas selokan yang mampu digunakan sebagai mata pencaharian baru untuk warga RT 08.

Ide awalnya terinspirasi dari konsep sistem saluran air di Tokyo, Jepang. Di sana, mereka memiliki ikan-ikan yang tetap hidup berdampingan dengan saluran air tanpa mengganggu kehidupan habitat ikan.

Ia juga menambahkan, konsep serupa yang diterapkan di Institut Teknologi Pertanian (IPB) juga jadi inspirasinya.

Sekaligus ia membawa tema 3P (profit, people, and planet). Ia percaya bahwa warga (people) di lingkungan RT 08 mampu meningkatkan finansial mereka (profit) dengan cara inovasi berbasis ramah lingkungan (planet). 

Menurutnya, sudah seharusnya setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, sesuai dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengeluaran Lingkungan Hidup. Ia menjadikan warga sebagai subjek aktif dalam agent untuk mengubah lingkungan lebih sehat, bukan hanya dijadikan sebuah objek. 

Ia menegaskan bahwa penerapan inovasi selokan dan budidaya ikan lele menggunakan sistem u-ditch atau beton berbentuk huruf U sehingga dibentuk menjadi kolam ikan lele, komposter komunal, dan lampu tenaga surya. 

Ia meyakini, selama 22 tahun ia tinggal di kawasan Malaka Jaya, belum pernah ada banjir. Meskipun memang aliran air meningkat, itu hanya 2-4 centimeter, jadi akan cepat surut dalam waktu singkat karena kawasan yang rendah. Selain itu,  kolam ikan lele pun dibangun di atas u-ditch. Sehingga, ruang di bawah sana tetap kosong tidak dapat mengotori ke kolam ikan lele.

Pembangunan inovasi ikan lele di selokan memakan biaya Rp 20 juta dari dana corporate social responsibility (CSR). Meskipun demikian, hal itu sepadan dari hasil panen ikan lele.

“Setahun kita bisa panen empat kali. Satu kali panen kita bisa dapetin Rp 20 juta. Jadi, kurang lebih setahun kita bisa dapetin keuntungan Rp 80 juta,” jelas Taufiq.

Ia memberdayakan warga yang telah pensiun atau belum bekerja. Terdapat tiga orang warga yang bekerja menjaga dan panen ikan lele. Bahkan ketiga orang tersebut sudah diberikan pelatihan dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) diharapkan kompeten menjaga kesehatan ikan.

Hasil panen pun tidak sepenuhnya digunakan untuk fasilitas operasional, tetapi juga dibagikan untuk kepentingan warga. 

Dari kesuksesan inovasi lingkungan RT 08 itu telah menjadi contoh dan tempat belajar untuk RT, RW, dan Kelurahan lainnya. Mereka menjadi bukti bahwa dampak kecil dapat menimbulkan dampak yang besar ke tatanan masyarakat dengan optimisme dan kesatuan. 

“Indonesia bisa menjadi besar bukan dari gedung-gedung tinggi, melainkan dari lingkungan yang dijaga.” kata Taufiq sebagai bentuk harapan untuk Indonesia. 

Referensi:

Sumber (artikel) Kompas.co (2025). “Ternak Lele di Duren Sawit Menghasilkan Cuan Rp 80  Juta Setahun”. Diakses pada 2 Juni 2026 Dari https://megapolitan.kompas.com/read/2025/11/05/16093841/ternak-lele-di-selokan-duren-sawit-bisa-hasilkan-cuan-rp-80-juta-setahun

Sumber (artikel) lpminstitut.com (2026) “Dari RT Inovatif Jadi Inspiratif”. Diakses pada 2 Juni 2026 Dari https://lpminstitut.com/2026/02/20/dari-rt-inovatif-jadi-inspiratif/

Teks: Raisyah Nabila Putri

Editor: Andien T. Aprillia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts