Listen

Ramah Disleksia

A

A

Nama Medpart

AKARSAMBARA: Perayaan Kolaboratif yang Mengakar pada Budaya dan Lingkungan

Foto: Ariel Sekty Pramana

Jakarta, majalahketik.com – Sabtu, 2 Agustus 2025 Mahasiswa Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR menyelenggarakan acara puncak bertajuk Akarsambara di Padepokan Ciliwung Condet, Jakarta Timur. Acara ini menjadi perayaan penutup dari rangkaian program Akarasakita, sebuah proyek pengembangan masyarakat yang mengangkat harmoni antara budaya, edukasi, dan pelestarian lingkungan. Akarasakita telah berjalan selama beberapa bulan melalui beberapa kegiatan utama: Akarnara (ruang belajar untuk anak-anak), Akarajut (daur ulang pakaian bekas), dan Akarswara (edukasi lingkungan melalui seni). Akarsambara menjadi titik akhir dari rangkaian tersebut sebuah momen selebratif yang dirancang untuk menampilkan hasil kerja kolaboratif antara mahasiswa dan masyarakat. Indira menyampaikan bahwa Akarsambara bukan hanya seremoni perpisahan, melainkan bentuk pertanggungjawaban sosial. 

“Kami ingin kegiatan ini berkelanjutan, bukan sekadar berakhir hari ini. Apa yang telah kami bangun bersama anak-anak dan warga dapat terus hidup bahkan setelah kami meninggalkan tempat ini.” jelas Indira 

Acara dimulai pukul 13.45 WIB dengan sesi eksplorasi pada tiga zona interaktif yang menjadi sorotan utama. Di zona pertama, Akarpekara, pengunjung diajak untuk belajar memilah sampah dan menempelkan potongan kain bekas pada manekin. Aktivitas yang bersifat simbolik namun edukatif ini mendorong pengunjung untuk merefleksikan isu fast fashion dan krisis sampah tekstil. Di akhir sesi, setiap peserta menuliskan harapan mereka untuk masa depan lingkungan.

Meskipun lokasi lain sempat dipertimbangkan, panitia akhirnya memilih Padepokan Ciliwung Condet sebagai tempat berlangsungnya acara. Keputusan ini tentu memiliki alasan yang kuat. Selain letaknya yang secara geografis dekat dengan Jakarta Pusat, kawasan ini juga menghadapi tantangan nyata: minimnya edukasi lingkungan serta riwayat banjir besar yang sempat menurunkan aktivitas masyarakat.

“Kami ingin membuktikan bahwa perubahan tidak perlu dimulai dari tempat yang jauh. Di pinggiran Jakarta pun masih banyak ruang yang bisa kita aktifkan kembali. Padepokan ini adalah simbol dari semangat itu,” jelas Indira.

Akarsambara dirancang bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk menggerakkan. Salah satu tujuan utamanya adalah menciptakan dampak jangka panjang, khususnya bagi anak-anak yang telah terlibat dalam program sejak awal. Mereka tidak hanya memperoleh pelajaran akademis seperti matematika dan bahasa Inggris, tetapi juga belajar membatik, bernyanyi, hingga tampil di depan publik. Setelah berbagai penampilan dan galeri interaktif, acara ditutup dengan sesi apresiasi, dokumentasi bersama, dan pengumuman doorprize. Meskipun bersifat simbolik, penutupan ini menjadi bentuk penghargaan atas kerja sama semua pihak yang terlibat.

Akarsambara menunjukkan bahwa proyek mahasiswa dapat menjadi gerakan sosial yang membawa dampak nyata. Melalui pendekatan lintas disiplin yang berbasis budaya dan lingkungan, Akarasakita membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, asalkan dilakukan secara kolektif.


Reporter : Risky Wahyu Kurniawan

Editor : Meisya Rizkia D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts