Pameran Bali Bhuwana Rupa Tampilkan Transformasi Batik Geometris dalam Balutan Harmonisasi Emas
Pameran Internasional Seni Rupa dan Desain “Bali Bhuwana Rupa” merupakan ajang yang diinisiasi oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Pameran yang berlangsung pada 23 Februari hingga 8 Maret 2026 ini diselenggarakan di Nata Citta Art-Space ISI Denpasar dan Agung Rai Museum of Arts, Ubud, Bali.
Pameran ini menghadirkan kebaruan melalui sintesis antara tradisi dan pendekatan visual kontemporer melalui karya berbahan kain sutra. Karya tersebut menawarkan pembacaan ulang atas batik Jawa Tengah serta stilisasi wayang melalui reduksi geometris, sehingga melahirkan transformasi bentuk yang segar tanpa meninggalkan akar nilai budaya Nusantara. Karya dosen Politeknik Negeri Media Kreatif, Pratiwi Kusumowardhani, ini mengelaborasi material tersebut dengan palet warna berlapis dan sentuhan aksen emas yang menegaskan kesinambungan nilai.
“Ini merupakan salah satu inovasi metode untuk melakukan restrukturisasi dari batik, wayang, dan budaya menjadi satu karya yang berbeda dari yang lain,” ujar Pratiwi.
Pratiwi menjelaskan bahwa teknik bordir Tasikmalaya dan aplikasi Gutta tidak diolah semata sebagai ornamen, melainkan sebagai strategi artistik untuk menghidupkan tekstur serta mempertegas kedalaman material. Perpaduan tersebut membangun dialog antara ingatan tradisi dan kesadaran kontemporer dalam satu ranah kriya.
Kurator dan akademisi seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), Yan Yan Sunarya, menilai karya ini sebagai artikulasi “kaweruh yang transformatif”. Ia berpendapat bahwa pendekatan geometris yang digunakan tidak hanya sebatas penyederhanaan visual, melainkan merupakan strategi konseptual untuk menegaskan bahwa pengetahuan tradisi dapat terus diperbarui dan dimaknai kembali.
“Karya ini sebagai refleksi kriya yang berorientasi pada masa kini sekaligus masa depan,” jelas Yan Yan.
Yan Yan menegaskan bahwa tradisi tidak ditempatkan sebagai artefak yang statis, melainkan sebagai sumber gagasan yang terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Atas apresiasi tersebut, Pratiwi menegaskan komitmennya dalam mengembangkan ragam hias Nusantara agar tetap relevan di panggung global tanpa kehilangan akar identitas estetik dan kulturalnya.
Pameran ini juga menampilkan ratusan karya, baik karya studi maupun karya undangan berupa produk para seniman dan desainer, dari tingkat nasional hingga internasional. Para partisipan internasional tersebut di antaranya berasal dari Jepang, Korea, Thailand, India, Amerika Serikat, Kazakstan, Iran, dan Australia, serta para desainer Traditional Textiles and Arts of Southeast Asia.
Teks: Humas Polimedia
Editor: Zalfa Rihhadatul Aisy