Listen

Ramah Disleksia

A

A

Nama Medpart

Unlock Behind: 2 Tahun Humanies Project, Refleksi di Tengah Krisis Ekologis dan Demokrasi

Sumber : M. Akbar
Sumber : M. Akbar

Jakarta, majalahketik.comUnlock Behind: 2 Tahun Humanies Project, Refleksi di Tengah Krisis Ekologis dan Demokrasi diselenggarakan pada Sabtu, 7 Februari 2026, di Kopikina, Kemang, Jakarta Selatan. Acara ini membahas hubungan krisis ekologis, bencana alam, pembangunan, hingga tata kota yang tidak berkeadilan dengan arah kebijakan pembangunan dan keputusan politik. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa, organisasi sipil, dan masyarakat umum yang mempunyai perhatian terhadap isu krisis ekologis dan demokrasi.

Unlocked behind merupakan acara yang mewadahi Gen Zdan Milenialuntuk mendiskusikan isu-isu terkini. Kegiatan ini diinisiasi oleh Huma Inisiatif Indonesia atau Humanies Project, yaitu gerakan anak muda yang berdiri sejak 2024 dan berfokus pada keterlibatan generasi muda dalam bidang kemanusiaan, sosial, dan demokrasi.

Memasuki tahun kedua, Humanies Project menghadirkan Unlocked Behind dengan tema Refleksi di Tengah Krisis Ekologis dan Demokrasi. Di dalam acara ini, pengunjung diperlihatkan bahwa bencana alam bukan lagi karena alam semata, tetapi juga hasil keputusan politik dan kebijakan pembangunan yang ekstraktif. 

Terdapat dua panel diskusi pada acara ini. Panel pertama berfokus mengenai masalah kebijakan politik, krisis ekologis, dan penyempitan ruang sipil. Managing Partner of UMBRA Strategic Legal, Pramudya A. Oktavinanda, menekankan bahwa bumi memiliki batas. Eksploitasi sumber daya alam hari ini pada dasarnya adalah “meminjam” dari generasi masa depan, sehingga pembangunan harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, Ketua Partai Hijau Indonesia, Gus Roy Murtadho, melihat persoalan lingkungan sebagai persoalan politik ruang. Ia menyebut bahwa ruang hidup selalu bersifat politis, karena selalu ada kepentingan dalam pengelolaannya. Kerusakan lingkungan, konflik agraria, hingga ketimpangan seringkali berkaitan dengan siapa yang memiliki akses kekuasaan. “Kalau anda tidak berkuasa, anda tidak bisa merubah, tidak bisa meredesain dunia yang lebih baik” 

Lebih lanjut, Founder Juristic Indonesia, Virdinda La Ode, mengatakan bahwa generasi muda adalah yang nantinya paling terdampak dari kerusakan alam hari ini. Ia menerangkan, semua kerusakan alam, kondisi demokrasi saat ini, serta kriminalisasi yang sering terjadi, berkaitan dengan politik.

Lebih lanjut, ia menanyakan masa depan generasi muda “Akankah kita menjadi generasi cemas, emas, atau ikhlas?” 

Di panel kedua, diskusi membahas mengenai masalah pembangunan kota, hak asasi manusia, dan akses keadilan. Direktur Operasional Humanies Project, Muhammad Naufal Fakhruddin, menjelaskan bahwa organisasinya lahir dari  minimnya keterlibatan anak muda dalam isu sosial dan politik. Dalam perkembangannya, Humanies Project berfokus pada advokasi kebutuhan dasar warga, pendampingan warga dan anak-anak, serta keterlibatan dalam kebencanaan melalui posko bantuan.

Sementara itu,  Direktur Program Rujak Center for Urban Studies, Dian Tri Irawaty, menekankan Bahwa masyarakat tidak hanya berhak menikmati fasilitas kota, tetapi juga berhak terlibat dalam proses perumusan kebijakan sampai pada tahap memengaruhi keputusan akhir kebijakan kota.

“Kita merasa dilibatkan, tetapi keputusan akhir ada di yang punya kuasa”

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menyoroti hubungan pajak yang masyarakat keluarkan dengan apa yang masyarakat dapatkan. Ia mengatakan, pajak harus digunakan dengan baik, untuk kebutuhan masyarakat yang relevan. Menurutnya, pajak sering disalahgunakan dan salah penempatan. Ia juga menyinggung pentingnya instrumen pajak kekayaan sebagai penambahan pendapatan.

Acara ini juga dihadiri mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Anies mengapresiasi kolaborasi relawan dan donatur dalam merespons isu krisis ekologis dan demokrasi. Ia mengajak masyarakat untuk terus menyuarakan penyelamatan lingkungan.

“Saya berkali-kali mengatakan, ini untuk kita semua. Bumi harus baik, bumi harus terawat, karena kita numpang di bumi ini. Numpang dari generasi ke depan.” ujarnya.

Selain panel diskusi, terdapat juga booth komunitas, galeri pameran perjalanan dua tahun Humanies Project, focus group discussion isu demokrasi, tata kota, dan lingkungan, serta penampilan seni berupa tari, puisi dan grup band Delusi. Melalui acara ini, pengunjung diharapkan dapat memahami politik dan arah pembangunan di Indonesia dan mampu menciptakan ruang diskusi yang kritis dan bermakna.


Teks: Irham Rusyda Ibnu Liandra
Editor: Andien T. Aprillia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts