Listen

Ramah Disleksia

A

A

Nama Medpart

Film Alas Roban (2026): Hadirkan Nuansa Nostalgia dan Visual yang Ngeri!

imdb alas roban poster

Jakarta, majalahketik.com — Alas Roban (2026) karya Hadrah Daeng Ratu, tayang perdana pada 15 Januari 2026, merupakan film horor yang mengangkat kisah urban legend yang cukup terkenal di salah satu jalur paling angker yang ada di daerah Jawa Tengah.  Banyaknya mitos yang beredar mengenai daerah itu membuat banyak orang tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang latar belakang Alas Roban.

Film produksi Unlimited Production ini kerap diperbincangkan banyak pencinta film sejak awal rilis, hingga akhirnya pada hari pertama penayangan film, Alas Roban raih 176 ribu penonton. Hadrah Daeng Ratu selaku sutradara menyebut bahwa film ini tak hanya berfokus membahas terkait Alas Roban di sepanjang filmnya, namun, untuk menambah dramatis dan berjalannya alur cerita, ia juga membungkus cerita ini dengan drama keluarga yang kerap menguatkan cerita dalam film. Tak hanya itu, original soundtrack yang dipilih oleh Penata Musik yakni Bintang Kehidupan dari Nike Ardila pastinya menarik banyak perhatian pecinta film horor Indonesia untuk sesekali kembali bernostalgia. 

Sita yang diperankan oleh Michelle Ziudith, seorang ibu tunggal dari Pekalongan yang hidup serba terbatas akhirnya mendapatkan pekerjaan di salah satu rumah sakit yang ada di Semarang. Hal itu lah yang membuat dirinya harus pergi ke daerah itu bersama anak semata wayangnya, Gendhis (Fara Shakila) yang memiliki masalah penglihatan.

Perjalanan dimulai, Sita dan Gendhis menaiki sebuah bus yang kebetulan adalah bus terakhir yang melewati Alas Roban. Seketika perjalanan itu berubah menjadi petaka ketika bus tersebut mogok di jalur Alas Roban dan hal itulah yang mengawali rentetan kejadian yang siap meneror Sita dan Gendhis. Sejak insiden itu, Gendhis mulai mengalami banyak hal ganjil. Mulai dari mendengar suara aneh, menggambar hal yang tak bisa dicerna oleh pikiran manusia biasa, sampai kerasukan roh jahat seolah ada sesuatu yang ingin merenggut nyawanya. Melihat kondisi Gendhis yang memprihatinkan membuat Sita putus asa dan ketakutan, hingga akhirnya ia harus melakukan banyak ritual untuk keluar dari malapetaka ini. 

Film Alas Roban menawarkan kengerian dengan ritme yang cukup lambat mengikuti alur dramatis nya yang di padu dengan horor yang terkesan klasik karena menampilkan setting waktu di era 90-an. Tata artistik dan detail properti yang digunakan  juga sangat diperhatikan oleh tim, mulai dari bus yang di tumpangi, seragam kerja Sita di rumah sakit, uang kertas tempo dulu, mobil ambulans, hingga set rumah yang berhasil menjejakkan mata penonton untuk melihat setting pada tahun 1990-an. Ditambah dengan pemutaran lagu Nike Ardila berjudul Bintang Kehidupan di yang berada di warung pecel lele, menjadi penegas bahwa latar waktu di film tersebut adalah 1990-an.

Visual yang di suguhkan juga terasa tidak dilebih-lebihkan terutama pada hantu yang muncul yang terkesan realistis. Penggunaan animasi efek komputer atau CGI untuk beberapa adegan seperti hewan, bus yang meliuk-liuk melewati Alas Roban juga dirasa tak berlebihan. 

Sinematografi dalam film Alas Roban juga terkesan cenderung gelap dan menggunakan warna-warna yang penuh dengan ketegangan merefleksikan situasi teror mencekam yang tak kunjung selesai dalam cerita.

Sebuah pengalaman baru bagi Hadrah Daeng Ratu selaku sutradara dalam film ini  yang dapat terjun langsung ke lokasi nyata Alas Roban untuk riset lebih jauh. Dalam beberapa hari ia dan tim menyusuri hutan di siang dan malam hari sampai akhirnya bertemu dengan juru kunci, dalang, dan beberapa warga setempat untuk meminta izin dan saran karena akan segera dilakukan proses shooting di daerah tersebut. Perjalanan tersebut pun diakui seru oleh Evelyn Afnilia selaku penulis skenario film Alas Roban yang ikut serta dalam proses riset tersebut hingga membuahkan hasil dan selama shooting berlangsung semua berjalan dengan lancar.

Sutradara : Hadrah Daeng Ratu

Produser : Oswin Bonifanz, Armand Darmaji, Ishak Harryanto

Ditulis oleh : Evelyn Afnilia

Sinematografi: Adrian Sugiono

Pemeran :

  • Michelle Ziudith
  • Rio Dewanto 
  • Ariqa Fakhirah Shakila
  • Taskya Namya
  • Imelda Therinne
  • Dewi Pakis
  • Ruth Marini
  • Agus Kuncoro
  • Saputra Kori

Penata Musik : Ofel Obaja Setiawan

Penata Artistik : Mai Harizon

Penyunting : Teguh Raharjo

Perusahaan Produksi : Unlimited Production, Narasi Semesta

Tanggal Rilis : 15 Januari 2026 (Indonesia)

Durasi : 1 jam 51 menit

Negara : Indonesia 

Bahasa : Indonesia 

Rating : 6.3/10 (IMDb)


Teks : Muhammad Zauhar

Editor : Andien T. Aprillia 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts