E-Voting Pemira Tentukan Arah Kepemimpinan Ormawa Polimedia
Jakarta, majalahketik.com – Bertempat di Gedung E Hall Polimedia, Pemungutan suara Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) usai dilaksanakan selama tiga hari sejak Rabu, 17 Desember 2025 hingga Jum’at, 19 Desember 2025. Penggunaan sistem E-Voting pada pemira ini bertujuan meningkatkan efisiensi, transparansi, serta partisipasi mahasiswa dalam demokrasi kampus Polimedia.
Pemungutan suara Pemilihan Mahasiswa Raya dengan menerapkan sistem E-Voting di kampus dinilai lebih sederhana dan cepat dibandingkan dengan metode manual. Mahasiswa hanya perlu masuk ke sistem yang sudah disediakan oleh panitia dengan memasukan password yang sebelumnya sudah diberikan. Selain itu, sistem E-Voting juga dianggap lebih sistematis dan ramah pengguna, sehingga mahasiswa yang mengikuti pemungutan suara dapat melakukannya dengan nyaman. Meski demikian, hal ini tidak luput dari adanya kendala teknis yang kerap muncul, terutama terkait masalah sinyal internet yang dapat mengganggu kelancaran E-Voting.
Selain kemudahan bagi mahasiswa umum, panitia juga tetap berupaya memfasilitasi mahasiswa difabel agar dapat mengikuti proses pemilihan dengan nyaman. Mahasiswa yang menggunakan kursi roda menjadi prioritas panitia dengan membantu mendampingi di lapangan. Sementara mahasiswa dengan keterbatasan pendengaran atau komunikasi tertentu juga menjadi prioritas dengan didampingi melalui pendampingan khusus panitia, termasuk penggunaan alat bantu atau cara berkomunikasi antara mahasiswa dan panitia yang sesuai. Dengan demikian, panitia memastikan bahwa proses voting bisa diikuti oleh seluruh kalangan mahasiswa dan tidak mengabaikan kebutuhan mahasiswa difabel, sehingga semua mahasiswa bisa memiliki kesempatan untuk berpartisipasi pada Pemira.
Tingkat kehadiran partisipasi mahasiswa pada pelaksanaan Pemira tahun ini relatifsama dengan tahun sebelumnya, tanpa adanya peningkatan maupun penurunan yang signifikan. Menurut keterangan Nayla Audry Sabila selaku Ketua Pelaksana Pemira tahun 2025, bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh minat mahasiswa yang cenderung stagnan, serta masih kurangnya ketertarikan sebagian mahasiswa untuk terlibat dan mendukung Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di Polimedia. Selain itu, faktor lain yang turut memengaruhi partisipasi mahasiswa dalam pemira tahun ini adalah rendahnya tingkat pengetahuan mahasiswa terhadap calon-calon delegasi yang mengikuti Pemira. Hal tersebut diduga berkaitan dengan strategi dan bentuk kampanye yang dinilai belum mampu menarik perhatian mahasiswa secara luas, sehingga visi dan misi para calon belum tersampaikan secara optimal.
“Sebenarnya kalau dibandingkan tahun lalu, angka partisipasinya sama saja, tidak turun dan tidak naik banget juga. karena memang minat mahasiswa terhadap ormawa tahun ini lebih kurang. Banyak yang tidak tahu siapa calon-calon pemimpinnya, dan mungkin dari cara mereka berkampanye yang kurang menarik mahasiswa, atau memang dari mahasiswanya tidak ada minat sama sekali untuk mendukung ormawa di polimedia.” Papar Nayla.
Panitia juga menyoroti adanya jarak antara mahasiswa dan politik kampus yang turut memengaruhi tingkat partisipasi pada pemira. Rendahnya keterlibatan mahasiswa dalam hal ini tidak sepenuhnya dapat dipandang sebagai apatisme, melainkan berkaitan dengan sistem serta persepsi yang berkembang terhadap politik kampus itu sendiri. Sejumlah mahasiswa dinilai lebih memilih fokus terhadap aktivitas akademik dan kegiatan kampus yang bersifat langsung dirasakan oleh mahasiswa, sehingga tidak mejadikan politik kampus sebagai prioritas utama.
Di sisi lain, terdapat pula mahasiswa yang memandang Organisasi Mahasiswa (Ormawa) sebagai organisasi yang kurang relevan dengan kebutuhan mereka saat ini. Meski demikian, panitia menegaskan bahwa ormawa sejatinya dibentuk untuk mewadahi aspirasi dan kepentingan mahasiswa. Perbedaan pandangan ini menunjukkan adanya tantangan dalam menyesuaikan sistem ormawa dengan kebutuhan dan harapan mahasiswa. Panitia juga menilai masih ada faktor lain yang memengaruhi rendahnya keterlibatan mahasiswa dan masih perlu ditelusuri lebih lanjut.
Melalui Pemira, mahasiswa dapat mengenal calon-calon pemimpin dari setiap delegasi serta mengikuti proses demokrasi kampus secara langsung, mulai dari perkenalan calon, kampanye, hingga debat kandidat. Proses demokrasi ini memberikan pengalaman yang mirip dengan pemilihan umum ditingkat nasional, sehingga mahasiswa menjadi lebih sadar dan memahami jalannya politik di lingkungan kampus.
Selain itu, menurut Ghina Darwis selaku Ketua Badan Pengawas Pemilihan Mahasiswa Raya (Bawasra) Pemira juga membantu mahasiswa menilai efektivitas dan kualitas dari calon pemimpin mereka. Dengan mengikuti tahapan kampanye dan debat, mahasiswa dapat menilai arah visi, misi dan program calon-calon tersebut, sehingga lebih siap menentukan pilihan secara kritis. Secara keseluruhan, pemira tidak hanya menjadi ajang pemilihan dan agenda tahunan semata, tetapi juga menjadi alat perjuangan dan sarana edukatif yang mendorong partisipasi mahasiswa dalam demokrasi kampus dan mengenal pemimpin yang akan mewakili mereka.
“Kalau dampak nyatanya, mereka jadi bisa tahu politik kampus itu seperti apa dan bagaimana cara berjalannya. Mahasiswa bisa aware dengan politik kampus, dan mereka juga bisa tahu sebenarnya calon-calon mereka itu efektif tidak untuk menjadi kandidat. Dengan adanya kampanye dan debat jadi bisa tahu arah gerak dari para calon.” Papar Ghina.
Selain pelaksanaan E-Voting dan dampak pemira, aspek pengawasan juga menjadi bagian penting dalam menjaga integritas proses demokrasi kampus selama Pemilihan Mahasiswa Raya. Pada hal ini, Bawasra melakukan pengawasan terhadap pasangan calon selama kampanye hingga seluruh rangkaian Pemira dinyatakan selesai. Pengawasan dilakukan melalui pemantauan berkelanjutan serta komunikasi aktif dengan para peserta pemira. Ghina menegaskan bahwa setelah pasangan calon terpilih ditetapkan, bawasra menyelesaikan tahapan hingga akhir, sebelum kemudian dikembalikan kepada delegasi atau masing-masing, sehingga proses pemira dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Lebih dari itu, Bawasra menegaskan bahwa hasil pemira tidak hanya berhenti pada seremonial pelantikan semata, tetapi diharapkan berlanjut pada kerja nyata organisasi mahasiswa (Ormawa). Pengawasan terhadap calon terpilih dilakukan dengan menekankan komitmen mereka terhadap visi dan misi yang telah disampaikan selama masa kampanye. Dalam hal ini, Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) memiliki peranan penting untuk mengawasi janji-janji tersebut agar tetap dijalankan setelah pelantikan. Dengan mekanisme tersebut, Pemira diharapkan tidak berhenti pada aspek seremonial pelantikan saja, melainkan menghasilkan kepemimpinan yang aktif dan bertanggung jawab.
“Setelah Pemira selesai akan dipantau oleh komisi 2 di MPM yang mana memantau bukan daripada kinerja atau profesionalitas dari masing-masing calon pemimpin melainkan pada agenda dan proker dari masing-masing delegasi.” Papar Ghina
Teks: Kamila Nurhaniyah
Editor: Desi Sintawati