Karya Dokumenter Mahasiswa Film & Televisi Polimedia Sukses Diakuisisi BRIN
Jakarta, majalahketik.com – Sejumlah karya film dokumenter mahasiswa semester empat Program Studi Film dan Televisi (FTV) Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia), mendapat kesempatan untuk diakuisisi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Karya-karya tersebut berangkat dari proses pembelajaran di kampus, tetapi tidak berhenti sebagai tugas perkuliahan. Melalui kesempatan akuisisi tersebut, film mahasiswa mendapat ruang untuk hadir dan diapresiasi di luar lingkungan kampus.
Pada semester empat, mahasiswa FTV memang mendapat sejumlah mata kuliah yang berfokus pada produksi karya nonfiksi. Mulai dari penulisan naskah nonfiksi, produksi, hingga editing nonfiksi, proses dari beberapa mata kuliah tersebut saling berkaitan dan bermuara pada pembuatan film dokumenter. Koordinator Program Studi FTV, Sifa Sultanika, menjelaskan bahwa mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan karya sebagai bagian dari tugas, tetapi juga mulai memikirkan keberadaan karya setelah selesai diproduksi.
Bagi Program Studi Film dan Televisi, distribusi menjadi bagian yang dipikirkan sejak awal proses produksi. Ketika mahasiswa mulai mengembangkan ide cerita, mereka juga diarahkan untuk melihat siapa yang menjadi sasaran karya serta ruang yang memungkinkan film tersebut dipertemukan dengan penikmat karya. Festival menjadi salah satu jalur tersebut.
“Distribusi itu kita pikirkan sejak dari development.” Ujar Sifa.
Salah satu peluang yang kemudian dibuka bagi karya dokumenter mahasiswa adalah program akuisisi BRIN. Sifa menjelaskan, Prodi FTV mulai mencari ruang distribusi lain karena film dokumenter memiliki lebih sedikit festival khusus dibandingkan film fiksi. Dari proses tersebut, prodi mengetahui adanya program BRIN yang mengakuisisi karya dengan tema tertentu, seperti budaya dan isu sosial. Sejak tahap pengembangan ide, mahasiswa kemudian diarahkan untuk mempertimbangkan karya yang sesuai dengan ruang tersebut.
Setelah film selesai, mahasiswa mengajukan karya melalui formulir yang disediakan. Karya-karya tersebut kemudian dinilai oleh BRIN berdasarkan tema yang dibutuhkan. Meski terdapat kerja sama antara Prodi FTV dan BRIN, pengajuan karya tetap melalui proses penilaian.
“Memang kita bekerja sama, tapi tidak menjadikan itu prioritas atau pintu otomatis, jadi karyanya memang di nilai.” Ujar Sifa.
Bagi Sifa, kesempatan akuisisi tersebut juga menjadi bentuk apresiasi bagi mahasiswa. Ia melihat mahasiswa tidak perlu hanya berorientasi pada kemenangan, tetapi berani membuat karya dan mencoba membawa karya tersebut ke berbagai ruang.
Salah satu karya yang mendapat kesempatan tersebut adalah “Depok The Living Heritage”, garapan Nur Aprilia Fitri yang akrab disapa Lea, sebagai sutradara dan Muhammad Ramji sebagai produser. Ide film ini berangkat dari pencarian isu di sekitar Polimedia, Jagakarsa, dan Depok. Dari penelusuran melalui internet, mereka menemukan cerita mengenai 12 marga di Depok yang kemudian menjadi pintu masuk untuk menggali sejarah dan kebudayaan masyarakat setempat.
Kedekatan lokasi serta keterbukaan masyarakat terhadap proses riset juga menjadi pertimbangan tim dalam memilih cerita tersebut.
“Kita cari isu atau fenomena yang ada Depok dan sekitarnya. kita cari juga di Google, akhirnya ketemu cerita tentang 12 marga di Depok,” ujar Lea.
Setelah menentukan topik, proses produksi dilanjutkan dengan riset, pencarian narasumber, dan pengumpulan arsip. Tim mewawancarai lima narasumber selama tiga hari, kemudian melakukan pengambilan gambar dan rekonstruksi. Menurut Ramji Selaku Produser, proses tersebut menjadi bagian penting untuk membangun cerita dokumenter agar tidak hanya mengandalkan gambar yang ditemukan di lapangan.
“Dokumenter itu kan mengejar realitas. Jadi kita kuatkan juga dengan arsip dan informasi dari sumber, kedalaman risetnya juga harus ada.”
Ujar Ramji.
Proses produksi pun tidak selalu berjalan sesuai rencana. tantangan muncul ketika tim harus merekam Pawai Obor yang berlangsung sekitar pukul empat pagi. Mereka baru mengetahui waktu pelaksanaan beberapa jam sebelumnya, sementara persiapan produksi masih berlangsung dan kendala teknis belum selesai. Lea dan rekannya, Sandy, pun berangkat lebih dulu ke lokasi. Karena tidak ingin kehilangan momen, Lea menggunakan Ponsel untuk merekam jalannya pawai.
“Yang penting momennya kita ambil dulu. Masalah hasilnya nanti, yang penting jangan sampai momennya kelewat.” Ujar Lea.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian dari proses produksi yang harus mereka hadapi sebagai tim dokumenter. Bagi mahasiswa, kesempatan karya mereka diakuisisi BRIN kemudian menjadi pengalaman bahwa film yang dibuat melalui proses perkuliahan dapat memiliki ruang di luar kelas. Setelah mengetahui karya mereka diterima, Lea melihat kesempatan tersebut sebagai dorongan untuk lebih percaya pada karya yang telah dibuat.
“Kita harus percaya sama proses yang kita buat, percaya diri sama karya kita, jangan terlalu berharap juga.” Tutup Lea.
Reporter: Kamila Nurhaniyah
Redaktur: Hanum Ayu