MAX 11 Hadirkan “Sanctuary of Panasea” sebagai Ruang Pulih
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Rekayasa Multimedia kembali menggelar acara tahunan Media Art Exhibition (MAX) 11, sebuah pameran yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menampilkan berbagai karya kreatif, khususnya dari prodi Multimedia. MAX 11 berlangsung selama dua hari, pada 13–14 November 2025, di Hall Gedung E, Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) Jakarta.
Pada penyelenggaraan kali ini, MAX 11 mengangkat tema “Sanctuary of Panasea”. Tema tersebut dipilih karena dianggap mewakili kebutuhan mahasiswa maupun pengunjung untuk menemukan ruang aman, tempat melepas penat secara emosional, serta momen untuk merilekskan diri di tengah rutinitas yang padat.
Ketua pelaksana, Fabian Ahmad, menjelaskan bahwa keseluruhan konsep pameran dirancang agar pengunjung dapat langsung merasakan kenyamanan saat memasuki instalasi.
“Sanctuary kayak tempat aman, panasea adalah penyembuh. Jadi kayak kalau kalian masuk ke dalam instalasi kita, itu kalian merasa nyaman dan merasa menghilangkan penat,” ujar Fabian.
Ia juga menjelaskan bahwa alih-alih memakai makna harfiah panasea sebagai obat mujarab, mereka memilih pendekatan yang lebih personal, yakni menghadirkan ruang yang memberi rasa pulih bagi siapa pun yang datang dan berinteraksi dengan karya.
Karya-karya yang ditampilkan pun disusun secara kreatif dan selaras dengan gagasan “pemulihan” yang ingin diangkat.
Selain pameran karya, MAX 11 juga menghadirkan dua sesi talkshow bersama narasumber dari industri kreatif. Pada hari pertama, hadir Facility, sebuah creative studio sekaligus clothing brand, dengan materi bertajuk “Ruang Pulih dalam Kreasi & Kolaborasi”.
Pada hari kedua, acara dilanjutkan dengan talkshow bersama Attar Karta, seorang kreator konten dan graphic designer, dengan materi “Seni sebagai Refleksi Diri”.
Tidak hanya pameran dan talkshow, MAX 11 juga menghadirkan bazar, live performance, serta berbagai instalasi kreatif dengan makna berbeda-beda. Salah satunya adalah Ruang Konsul, yaitu ruangan yang disediakan bagi pengunjung untuk “mengeluh”. Di ruang ini, pengunjung dapat menuliskan keresahan atau masalah yang mereka rasakan pada sticky notes, lalu menempelkannya.
Selain itu, MAX 11 juga menampilkan karya berbasis motion, Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), hingga permainan web interaktif.
Fabian menjelaskan bahwa MAX 11 lahir dari keresahan mahasiswa Multimedia dan bagaimana mereka menyalurkan keluh kesah tersebut melalui seni.
“Awalnya dari keluh kesah anak multimedia ini, jadi kayak kita tuh menuangkan keluh kesah ke dalam seni. Jadi kalau misalnya kita lagi pusing, kita tuh dengerin lagu, lagi pusing kita menuangkan dalam kanvas, kita coret-coret, ngegambar,” ujarnya.
Kesan positif pengunjung saat menghadiri MAX 11 datang dari Putri Yohana, mahasiswi Prodi Penyiaran.
Fabian menyampaikan harapannya agar MAX 11 dapat menjadi ruang bagi pengunjung untuk memahami bahwa setiap masalah dapat disalurkan melalui cara-cara positif, misalnya melalui seni.
“Sangat luar biasa ya, banyak permainan, terus dijelasin sama kakak-kakaknya. Seru dan menarik,” ujarnya.
Melalui penyelenggaraan MAX 11, ia berharap pengunjung dapat melihat bahwa seni bukan hanya berupa karya visual, tetapi juga sebuah proses penyembuhan yang memberi ruang untuk menenangkan diri dan mengekspresikan emosi secara positif.
“Harapan pribadi saya untuk MAX 11 ini, yaitu agar orang-orang kalau misalnya punya masalah itu nggak apa-apa, tapi kita bisa salurkan dengan sesuatu, seperti seni,” ungkapnya.
Teks: Zalfa Rihhadatul Aisy
Editor: Sabda Maulana