Penutupan Olimpiade PoliMedia 2025 Tampilkan Semangat Kolaborasi Mahasiswa
JAKARTA, majalahketik.com – Hall PoliMedia dipenuhi sorak sorai saat penutupan ajang Olimpiade PoliMedia 2025 digelar pada 30 Juni 2025. Acara ini tidak hanya menjadi penanda akhir kompetisi, tetapi juga simbol kolaborasi dan semangat lintas program studi yang terbangun selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Selama beberapa pekan, mahasiswa dari berbagai jurusan berpartisipasi dalam sejumlah perlombaan olahraga dan seni. Ajang ini bukan hanya wadah untuk mengasah bakat, tetapi juga mempererat solidaritas antar mahasiswa dalam suasana kompetitif yang tetap suportif.
Ketua pelaksana Olimpiade PoliMedia, Gina Ghafira, mengungkapkan tantangan utama dalam penyelenggaraan acara ini adalah menyatukan panitia dari berbagai latar belakang program studi.
“Sulitnya adalah menyatukan pemikiran yang punya tujuan berbeda sampai akhirnya bisa punya tujuan yang sama,” ujar Gina.
Menurutnya, Olimpiade PoliMedia merupakan ajang non-akademik terbesar di kampus yang penting diikuti oleh mahasiswa karena bisa mendorong pengembangan keterampilan dan bakat.
Baca juga: Grafika Education Polimedia Ajak Generasi Muda Kenali Dunia Grafika
“Kalau menang tentu bangga, tapi yang kalah pun tetap punya kebanggaan karena bisa jadi bahan evaluasi untuk tahun depan,” tambahnya.
Gina juga menekankan pentingnya komunikasi dalam menjaga jalannya lomba agar tetap kondusif dan suportif.
“Komunikasi yang baik adalah pondasi utama agar acara bisa berjalan lancar,” jelasnya.
Untuk menjaga semangat panitia selama kegiatan, Gina selalu mengingatkan visi dan misi acara, serta pentingnya kerja sama tim.
“Kalau ada masalah, kita selesaikan bersama. Harapannya, tahun depan persiapan bisa lebih matang, baik dari sisi struktur maupun keuangan,” tutupnya.
Sementara itu, salah satu peserta lomba seni mural, Azzahra Dwika Febriliana, berhasil meraih juara pertama. Ia mengaku sempat mengalami kendala teknis, khususnya terkait media yang digunakan.
“Kendalanya di media, yaitu kanvas. Padahal, mural seharusnya di tembok,” ujar Zahra.
Meski demikian, Zahra merasa senang mengikuti perlombaan ini karena suasananya seru. Ia berharap ke depannya teknis lomba bisa disesuaikan agar lebih optimal.
“Kalau mural di kanvas kurang memadai. Kalau tidak memungkinkan di tembok, mungkin bisa diganti jadi lomba melukis di kanvas,” sarannya.
Olimpiade PoliMedia 2025 ditutup dengan semarak dan menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi lintas prodi bisa melahirkan semangat baru dalam kegiatan kampus yang inklusif dan inspiratif.
Reporter: Hanum Ayu Lestari
Redaktur: Sabda Maulana