Listen

Ramah Disleksia

A

A

Nama Medpart

Hindari Sesat Pikir agar Argumen Lebih Solid

Sumber: Capital Campaign Pro

Jakarta, majalahketik.com — Halo, Sobat Ketik! Setiap orang pasti pernah berargumen. Argumentasi adalah penyampaian pendapat yang terdiri atas klaim, bukti, dan alasan yang disusun dengan logis. Proses ini kerap dilakukan saat berdiskusi, bercerita, dan menulis.

Namun,  argumen yang tidak disusun, dipertahankan, dan disampaikan dengan baik bisa menjadi tidak meyakinkan. Meskipun terlihat meyakinkan, argument tersebut tetap terdapat kekeliruan. Kekeliruan dalam argument umumnya bermula dari proses penalaran yang keliru. 

Kekeliruan dalam penalaran disebut logical fallacy atau sesat pikir. Apa sih sebenarnya sesat pikir itu?, yuk kita bahas!

Logical Fallacy/Sesat Pikir

Dilansir dari Zenius.net, yang mengutip ThoughtCo, logical fallacy atau sesat pikir merupakan kekeliruan dalam menalar yang membuat validitas sebuah argumen diragukan. Istilah fallacy berasal dari bahasa Latin, yaitu fallacia yang artinya tipu muslihat. Berikut contoh argumen yang mengandung sesat pikir:

 “Kalau tidak mau gaji kecil, tidak usah jadi guru, guru itu pengabdi!”.

Argumen ini terdengar baik-baik saja, tetapi sebenarnya keliru secara penalaran. Argumen ini menyederhanakan masalah kompleks dengan jawaban “mau atau tidak mau” tanpa mempertimbangkan faktor lain. 

Terdapat banyak jenis sesat pikir. Namun, setidaknya untuk membangun argumen yang solid, terdapat lima sesat pikir yang paling sering muncul dalam kehidupan sehari-hari dan perlu kamu hindari.

Jenis-jenis Logical Fallacy/Sesat Pikir

  1. Ad Hominem 

Perhatikan perbincangan antara A dan B:

A: “Aduh, nilai ujian semester aku anjlok banget.”

B: “Sepertinya kamu harus lebih rajin belajar lagi deh.”

A: “Kamu juga masih sering nanya pelajaran ke aku. Jangan sok.”

Pernyataan A merupakan bentuk sesat pikir ad hominem. Ad hominem adalah sesat pikir yang mengalihkan perbincangan dari topik utama ke latar belakang pribadi lawan bicara. 

  1. False Dilemma

Seperti contoh pembahasan gaji guru yang kecil, contoh itu merupakan bentuk sesat pikir false dilemma atau dilema palsu. False dilemma merupakan sesat pikir yang menggambarkan suatu permasalahan seolah-olah hanya menyediakan dua pilihan jawaban, padahal fenomena itu memiliki jawaban lain. Dalam konteks gaji guru yang kecil, masih ada jawaban lain selain “mau atau tidak mau”, misalnya kebijakan pemerintah daerah yang bermasalah.

  1. Strawman

Sesat pikir strawman adalah kondisi ketika terjadi diskusi, tetapi lawan bicara keliru menyimpulkan argumen pihak lain, sehingga berujung kesalahpahaman. Berikut contohnya dalam perdebatan tentang sekolah rakyat.

“Sekolah rakyat itu tidak menyentuh akar permasalahan pemerataan Pendidikan.”

“Tapi sekolah rakyat ditujukan untuk masyarakat kurang mampu. Kamu tidak setuju masyarakat kurang mampu bisa sekolah?”

  1. Hasty Generalization/ Overgeneralization 

Kamu mungkin pernah mendengar yang seperti ini,

“OB di sini malas, kemarin abis mengepel tidak diberi tanda lantai licin.”

Menggeneralisasi suatu hal dengan satu informasi yang terbatas, merupakan sesat pikir hasty generalization atau overgeneralization. Padahal, bisa saja OB tersebut lupa atau ada orang lain yang melihat.

  1. Appeal to Popularity

Ketika sebuah argumen dianggap benar hanya karena banyak orang meyakininya, itulah sesat pikir appeal to popularity. Contoh sederhananya, dukungan terhadap pasangan calon A dianggap lebih baik dari hanya karena banyak orang berpendapat demikian, padahal belum tentu benar.

Nah, itu dia penjelasan mengenai logical fallacy atau sesat pikir. Sesat pikir perlu dihindari agar argument tidak menyesatkan. Dalam berargumen, argumen harus dibentuk dengan keterikatan klaim, bukti, dan alasan yang valid. Logika perlu diasah dan digunakan dengan bijak, sehingga argumen yang dibangun menjadi solid dan kita terhindar dari sesat pikir orang lain.

Referensi:

Azkia Nurfajrina (2024). “Apa itu Logical Fallacy? Ini Arti, Jenis, dan Contohnya”. Diakses pada 22 Januari 2026 dari https://www-detik-com.cdn.ampproject.org/v/s/www.detik.com/edu/detikpedia/d-7458574/apa-itu-logical-fallacy-ini-arti-jenis-jenis-dan-contohnya/amp?amp_gsa=1&amp_js_v=a9&usqp=mq331AQIUAKwASCAAgM%3D#amp_tf=From%20%251%24s&aoh=17691885754226&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.detik.com%2Fedu%2Fdetikpedia%2Fd-7458574%2Fapa-itu-logical-fallacy-ini-arti-jenis-jenis-dan-contohnya 

Bayu Adi Isnanto (2023). “Argumen Adalah: Arti, Komponen, Jenis-jenis, dan Contoh Kalimat”. Diakses pada 23 Januari 2026 dari https://www-detik-com.cdn.ampproject.org/v/s/www.detik.com/bali/berita/d-6582186/argumen-adalah-arti-komponen-jenis-jenis-dan-contoh-kalimat/amp?amp_gsa=1&amp_js_v=a9&usqp=mq331AQIUAKwASCAAgM%3D#amp_tf=From%20%251%24s&aoh=17692316125678&csi=1&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.detik.com%2Fbali%2Fberita%2Fd-6582186%2Fargumen-adalah-arti-komponen-jenis-jenis-dan-contoh-kalimat 

Maulana Adieb (2022). “Definisi Logical Fallacy (Sesat Pikir) dan 24 Jenis-Jenisnya yang Perlu Diketahui Sobat Zenius”. Diakses pada 22 Januari 2026 dari https://www.zenius.net/blog/jenis-jenis-logical-fallacy/ 

Teks: Irham Rusyda 

Editor: Nasywa Davina S.K.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts