Listen

Ramah Disleksia

A

A

Nama Medpart

Palapa yang Lebih dari Sekadar Metafora dalam Sejarah

Sumber foto: Kompas.com

Pernah dengar gak sih tentang buah palapa? Istilah ini mungkin sering kita dengar, namun tidak banyak yang tahu makna sebenarnya karena jarang dibahas secara mendalam. Sobat Ketik, tau ga? Meskipun disebut sebagai “buah,”  hingga kini bentuk dan rasanya belum diketahui secara pasti, lho! Menariknya, dalam konteks sejarah, buah palapa justru lebih sering dikaitkan dengan Sumpah Palapa yang diikrarkan oleh Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1331 Masehi. 

Sumpah Palapa merupakan sebuah janji yang diucapkan oleh Gajah Mada untuk tidak menikmati buah palapa, yang dapat dimaknai sebagai sejenis rempah-rempah atau simbol kenikmatan duniawi, sebelum berhasil menyatukan seluruh wilayah nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Dalam sumpahnya, Gajah Mada menyebutkan bahwa ia tidak akan “Amukti Palapa” (menikmati palapa) sebelum mengalahkan berbagai kerajaan dan wilayah seperti Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik.

Adapun isi sumpah palapa berbunyi sebagai berikut: 

“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”

Artinya: Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) menikmati palapa (melepaskan puasa).

Makna kata “palapa” sendiri masih menjadi perdebatan di antara para ahli. Menurut Agus Munandar, dosen arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dalam sumpah palapa terselip beragam makna. Menurutnya, beberapa kalangan berpendapat bahwa amukti palapa berarti memakan buah palapa atau kelapa. Sementara itu, Moh. Yamin menafsirkan  palapa sebagai pantangan untuk bersenang-senang sebelum tujuannya tercapai, seperti yang dikatakan Mahapatih Gajah Mada yang akan melepaskan puasa, setelah menundukkan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.

Nah, Sobat Ketik, setelah kita mengenal lebih dekat istilah buah palapa, ternyata istilah ini bukan sekadar buah biasa, ya. Banyak ahli percaya bahwa palapa adalah sebuah metafora, bukan buah secara harfiah, melainkan simbol kenikmatan atau kesenangan duniawi yang dipilih untuk ditahan oleh Gajah Mada demi keinginannya untuk menyatukan Nusantara.

Jadi, meskipun bentuk dan rasanya masih misteri, buah palapa tetap punya makna besar sebagai simbol keteguhan dan pengorbanan. Dari Sumpah Palapa, kita belajar bahwa untuk mencapai tujuan yang lebih besar, kita perlu perjuangan dan terkadang harus menahan diri terlebih dahulu.

Sumber:

Sumber (artikel) Gunawan Prasetio (2023). “Ada Apa Denga Buah Palapa?”. Diakses pada 20 April 2025. Dari https://www.pewartanusantara.com/ada-apa-dengan-buah-palapa/ 

Sumber (artikel) Awalia Ramadhani (2022). “Sumpah Palapa: Sejarah dan Isi yang Diucapkan oleh Gajah Mada”. Diakses pada 20 April 2025. Dari https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6476259/sumpah-palapa-sejarah-dan-isi-yang-diucapkan-oleh-gajah-mada 

Teks: Zalfa Rihhadatul Aisy

Editor: Fhadel Izza Mahendra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts