Nama Medpart

Menembus Batas Ruang Kelas, Mahasiswa AIESEC in UPNVJ Kembangkan Kepemimpinan melalui Misi Pendidikan di Vietnam

Foto: AIESEC

majalahketik.com – Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui buku dan penjelasan di dalam kelas. Bagi mahasiswa yang mengikuti program Global Volunteer AIESEC in UPN Veteran Jakarta (UPNVJ) di Vietnam, proses belajar juga hadir melalui perbedaan bahasa, kebiasaan, dan tantangan yang ditemui selama berada di lingkungan baru. Melalui proyek Global Classroom di Hanoi, para relawan berkontribusi dalam kegiatan pendidikan bagi anak-anak setempat sekaligus memperoleh pengalaman yang memperluas pemahaman mereka tentang kepemimpinan dan peran generasi muda dalam menciptakan perubahan.

Program Global Volunteer merupakan salah satu bentuk pengalaman lintas budaya yang memberikan kesempatan kepada anak muda untuk terlibat dalam proyek sosial di lingkungan internasional. Dalam pelaksanaannya di Vietnam, proyek Global Classroom berfokus pada penciptaan pengalaman belajar yang inklusif dan interaktif bagi anak-anak dari berbagai latar belakang. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya AIESEC in UPNVJ untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan keempat, yaitu Pendidikan Berkualitas.

Melalui aktivitas edukatif seperti Book Club dan GlobeLingo, para relawan membantu siswa mengembangkan kemampuan literasi, numerasi, dan bahasa Inggris. Kegiatan tersebut dirancang untuk mendorong keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk membangun keberanian dalam berkomunikasi dan mengeksplorasi pengetahuan baru.

Kontribusi Global Classroom juga sejalan dengan target SDG 4.6 yang menekankan peningkatan kemampuan literasi dan numerasi serta target SDG 4.7 yang mendorong pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan pemahaman lintas budaya. Melalui pendekatan ini, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun perspektif yang lebih luas terhadap masyarakat dan dunia.

Mengajar di negara dengan bahasa dan kebiasaan yang berbeda menghadirkan tantangan tersendiri bagi para relawan. Mereka perlu menyesuaikan metode pengajaran dengan kemampuan siswa yang beragam, termasuk ketika sebagian siswa belum sepenuhnya memahami bahasa Inggris. Kondisi tersebut menuntut kreativitas dalam menyampaikan materi agar pesan dapat dipahami tanpa hanya mengandalkan komunikasi verbal.

Para relawan menggunakan gestur, gambar, ekspresi, dan bahasa tubuh untuk membantu menjembatani perbedaan bahasa. Rentang usia siswa yang luas juga membuat pendekatan pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa proses pendidikan membutuhkan fleksibilitas dan kemampuan memahami karakter orang lain.

Situasi di kelas turut menjadi ruang bagi para relawan untuk mengembangkan kepemimpinan. Mereka belajar mengambil inisiatif, menyesuaikan strategi ketika menghadapi kendala, serta bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran yang dijalankan. Kepemimpinan dalam konteks ini tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan memberikan arahan, tetapi juga dengan kesediaan untuk mendengarkan, beradaptasi, dan menemukan solusi.

Book Club menjadi salah satu kegiatan yang memperlihatkan proses tersebut. Melalui kegiatan membaca bersama, para relawan mendorong siswa untuk lebih berani berbicara dalam bahasa Inggris. Interaksi yang terbangun secara bertahap juga memperkuat hubungan antara relawan dan siswa. Dari pengalaman tersebut, para peserta belajar bahwa tanggung jawab dalam pendidikan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga mencakup upaya menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan siswa.

Kemandirian Terbentuk di Luar Lingkungan Akademik

Pembelajaran selama program tidak terbatas pada kegiatan di sekolah. Menjalani kehidupan selama tiga bulan di Vietnam mengharuskan para relawan beradaptasi dengan berbagai aspek keseharian, mulai dari mengatur keuangan pribadi dan menyiapkan kebutuhan hidup hingga menggunakan transportasi umum dan menghadapi rasa rindu terhadap keluarga.

Jauh dari lingkungan yang familiar, para peserta perlu mengambil keputusan secara mandiri dan menyelesaikan persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Situasi tersebut mendorong mereka untuk mengelola waktu, menghadapi ketidakpastian, dan mencari solusi ketika mengalami kesulitan.

Salah satu peserta Global Volunteer mengungkapkan bahwa pengalaman tersebut mengubah cara dirinya memandang kemampuan pribadi.

“Saya melihat langsung bagaimana sistem pendidikan di Vietnam berkembang dan belajar dari praktik yang diterapkan di sana. Namun, yang paling saya dapatkan dari program ini sebenarnya adalah perubahan dalam diri saya sendiri, bagaimana saya menjadi lebih berani mengambil risiko dan lebih percaya diri dalam menghadapi situasi baru,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa program lintas budaya dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenali potensi diri melalui situasi yang berbeda dari keseharian mereka. Tantangan yang dihadapi mendorong peserta untuk keluar dari zona nyaman, meningkatkan kepercayaan diri, serta membangun kemampuan beradaptasi yang dapat berguna dalam kehidupan akademik maupun profesional.

Pertukaran Budaya Memperluas Perspektif Global

Selain terlibat dalam kegiatan pendidikan, para relawan juga berinteraksi dengan sesama relawan internasional, guru, staf sekolah, dan masyarakat setempat. Hubungan tersebut memberikan kesempatan untuk mengenal perspektif yang berbeda sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi antarbudaya.

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa keberagaman tidak harus menjadi hambatan dalam membangun hubungan. Meskipun terdapat perbedaan bahasa dan kebiasaan, kesamaan semangat untuk belajar dan memberikan kontribusi positif dapat menjadi dasar untuk menciptakan kolaborasi yang bermakna.

Para relawan juga memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Vietnam melalui penampilan tarian tradisional dan pembagian makanan khas Indonesia yang mendapat sambutan hangat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pertukaran budaya yang mempererat hubungan antara masyarakat kedua negara serta memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia dalam lingkungan internasional.

Interaksi tersebut sekaligus memberikan pengalaman bagi para peserta untuk memahami peran mereka sebagai bagian dari komunitas global. Mereka tidak hanya menerima pengetahuan dari lingkungan baru, tetapi juga berbagi nilai dan identitas budaya yang dibawa dari Indonesia.

Mendorong Peran Anak Muda dalam Pembangunan Berkelanjutan

Melalui program Global Volunteer di Vietnam, AIESEC in UPNVJ menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mendukung pendidikan berkualitas dan pembangunan berkelanjutan. Proyek Global Classroom menjadi salah satu bentuk kontribusi melalui kegiatan sosial yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan belajar memahami kebutuhan masyarakat.

Pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa pengembangan kepemimpinan dan dampak sosial dapat berjalan secara bersamaan. Saat berkontribusi kepada orang lain, para relawan turut mengembangkan kemandirian, kepekaan sosial, dan kemampuan menghadapi tantangan lintas budaya.

Pada akhirnya, pengalaman internasional bukan hanya tentang berpindah tempat, melainkan juga tentang memperluas cara pandang terhadap tanggung jawab dan perubahan. Melalui kegiatan pendidikan di Hanoi, para relawan mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi sekaligus mengembangkan diri sebagai anak muda yang lebih adaptif dan berwawasan global. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen AIESEC in UPNVJ dalam mendukung generasi muda agar mampu mengambil peran aktif dalam menciptakan masa depan yang lebih baik.

Teks : Press Release AIESEC in UPNVJ

Editor : Nasywa Davina S.K.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts