Dari Zona Nyaman ke Vietnam: Kisah Kalila Sebagai Relawan Global
Bagi Kalila, mengikuti program Global Volunteer AIESEC in Unpad bukan sekadar kesempatan untuk bepergian ke luar negeri. Program tersebut menjadi ruang baginya untuk menantang diri, mengenal budaya baru, dan memahami makna kolaborasi lintas negara.
Melalui penugasannya di Vietnam, Kalila mendapatkan pengalaman langsung tentang bagaimana kegiatan sosial dapat memberi dampak nyata bagi komunitas lokal. Kisah perjalanannya menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa dapat berkontribusi di tingkat global melalui program pertukaran berbasis aksi sosial.
Motivasi Kalila untuk bergabung dengan Global Volunteer berawal dari satu pertanyaan sederhana, yaitu bagaimana jika saya mencoba sesuatu yang benar-benar berbeda?
“Saya ingin merasakan pengalaman relawan yang sesungguhnya di luar negeri karena saya percaya itu cara terbaik untuk mendorong diri keluar dari zona nyaman,” ungkapnya.
Pencariannya akan pengalaman bermakna membawanya ke AIESEC in Unpad, tempat ia menemukan kesempatan untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat melalui proyek-proyek internasional. Tanpa banyak ragu, ia mengambil langkah berani tersebut dan Vietnam menjadi pilihannya.
Kalila bergabung dengan proyek On the Map di Kebun Herbal ATrung, Distrik Bac Ha, Vietnam. Sebagai bagian dari divisi pemasaran, ia mengeksplorasi fotografi, penyuntingan, serta promosi pariwisata sambil belajar memahami kehidupan masyarakat pedesaan.
“Saya belajar bagaimana bercerita melalui visual dapat mempromosikan pariwisata lokal secara berkelanjutan. Rasanya luar biasa, mengetahui bahwa karya kami dapat membuat orang lebih menghargai keindahan alam Vietnam.” ujar Kalila
Sepanjang perjalanan kerelawanannya, Kalila mendapat dukungan dari Miss Phuong, tuan rumah lokalnya. Justin, Buddy EP dari AIESEC in NEU Vietnam; serta Cia, Mentor EP dari AIESEC in Unpad. Dua delegasi lain dari AIESEC in USU, Tara dan Diana, turut bergabung dalam proyek ini, bersama-sama membentuk tim global yang disatukan oleh tujuan yang sama.
Di antara banyak kenangan yang ia miliki, momen yang paling berkesan bagi Kalila adalah ketika ia berinteraksi dengan penduduk setempat. Mulai dari membantu pekerjaan pertanian kecil hingga mengikuti pertemuan komunitas, ia menemukan keindahan dalam kesederhanaan dan kebaikan yang tulus.
Tidak ada kisah hebat yang hadir tanpa hambatan. Bagi Kalila, tantangan terbesarnya adalah kendala bahasa serta cuaca yang tak menentu, yang kerap memengaruhi aktivitas luar ruang.
“Bahkan sempat bertepatan dengan topan. Kami harus terus menyesuaikan jadwal, tetapi situasi itu mengajarkan kami betapa pentingnya kemampuan beradaptasi dan kerja sama tim. Google Terjemahan menjadi sahabat terbaik kami.” ujar Kalila
Apa yang awalnya tampak seperti kemunduran justru berubah menjadi pelajaran tentang kepemimpinan, kesabaran, dan pemecahan masalah kreatif, nilai-nilai yang terus Kalila bawa bahkan setelah kembali ke rumah.
Sekembalinya dari Vietnam, Kalila menyadari bahwa pengalaman itu telah mengubah cara pandangnya secara menyeluruh. Ia tidak hanya memperoleh pengalaman menjadi sukarelawan, tetapi juga menemukan kepercayaan diri, pemahaman lintas budaya, serta persahabatan yang ia yakini akan bertahan seumur hidup.
“Yang paling saya syukuri adalah mendapatkan keluarga baru dan teman-teman internasional. Mereka menjadi sumber inspirasi besar dan membuat seluruh perjalanan ini semakin berkesan.” ujarnya dengan hangat.
“Beranikan diri untuk mengambil langkah pertama. Jika kamu sudah punya niat, jangan biarkan rasa takut menghentikanmu. Kamu tidak pernah tahu kapan kesempatan seperti ini akan datang lagi dan bisa saja itu menjadi pengalaman yang mengubah hidupmu.” Tutupnya
Kontributor: AIESEC in UNPAD
Editor: Meisya Rizkia D.