Listen

Ramah Disleksia

A

A

Nama Medpart

Pekan Sosial Politik 2025: Berpolitik Lewat Seni

Fotografer: Mutia Nur Azizah
Fotografer: Mutia Nur Azizah

JAKARTA, majalahketik.com – BEM Polimedia (Politeknik Negeri Media Kreatif) Dapartemen Sosial dan Politik kembali menghadirkan Pekan Sosial Politik (Peksospol) 2025 sebagai ajang kolaborasi antara dunia seni dan kesadaran politik mahasiswa. Dengan mengusung tema “Berpolitik Lewat Seni”, acara ini menjadi wadah untuk menunjukan  bahwa politik dapat dikemas secara kreatif dan menyenangkan tanpa kehilangan maknanya.

Ketua pelaksana, Muhammad Rafly Wahid, menjelaskan bahwa kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari ke depan dengan beragam rangkaian acara menarik. 

“Hari pertama kita adakan diskusi publik bersama dua narasumber yaitu Virdian Aurellio, content creator publik sekaligus mantan Ketua BEM UNPAD, dan Mansen Munthe, musisi sekaligus vokalis band METHOSA yang dikenal lantang menyuarakan isu sosial melalui musik. Acara ini berlangsung di Pusgiwa lantai dua Polimedia Jakarta,” jelas Rafly.

Ia melanjutkan, “Hari kedua akan dilaksanakan live mural di depan Gedung E Hall Polimedia sebagai bentuk ekspresi visual mahasiswa terhadap isu isu sosial politik. Sementara itu, pada hari terakhir acara akan diisi oleh penampilan puisi, solo singer, orasi, band, dan mini exhibition karya mahasiswa.”

Persiapan acara ini dilakukan selama kurang lebih satu setengah bulan. Rafly mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapi adalah membangun branding acara serta menarik minat mahasiswa untuk mengikuti diskusi publik.

“Membangun antusiasme itu tidak mudah  tetapi kami berusaha mengemas acara dengan cara yang menarik agar pesan politik tetap tersampaikan,” tambahnya.

Pada hari pertama, suasana diskusi publik berlangsung hangat. Narasumber pertama, Virdian Aurellio, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam memahami serta  menyuarakan isu isu sosial politik di Indonesia. 

“Gen Z bukan generasi yang apatis. Kita justru generasi yang vokal dan berani bersuara menolak ketidakadilan, mulai dari isu lingkungan sampai kebijakan publik,” ujar Virdian.

Ia menambahkan bahwa kesadaran politik di kalangan muda perlu diapresiasi dan difasilitasi dengan ruang yang kreatif seperti acara ini.

Sementara itu, Mansen Munthe menyoroti peran seni sebagai medium yang kuat untuk menyampaikan pesan pesan sosial politik. Ia menegaskan bahwa para seniman memiliki tanggung jawab moral untuk menggugah kesadaran sosial lewat karya karya mereka.

Selain menghadirkan inspirasi, acara ini juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa agar lebih peka terhadap dinamika sosial politik di sekitarnya. Rafly berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti sebagai acara tahunan, tetapi menjadi pemicu bagi mahasiswa Polimedia untuk terus berpikir kritis dan berani menyampaikan pendapat 

“Harapan saya, pesan dari para narasumber bisa benar-benar dirasakan. Mahasiswa Polimedia harus menjadi agen perubahan yang tidak buta politik, melainkan aktif dan sadar terhadap isu-isu yang berdampak pada kehidupan kita,” tutup Rafly.

Dengan kombinasi diskusi publik, seni mural, dan pertunjukan kreatif, Pekan Sosial Politik 2025 menjadi bukti bahwa seni dan politik dapat bersatu untuk menyampaikan pesan perubahan secara cerdas, indah, serta bermakna.


Reporter: Falza Azahra
Editor : Meisya Rizkia D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts