Jakarta, majalahketik.com –Bagi Dwinta Nurul F. Bintang atau yang kerap disapa Bintang, perjalanan menemukan diri tak selalu dimulai dari kemenangan. Justru, titik baliknya hadir di masa ketika segalanya terasa runtuh, saat ia kehilangan seseorang yang selama ini menjadi sumber makna dan arah hidupnya.
“Aku kehilangan orang itu,” kenangnya,
“tapi yang lebih menyakitkan, aku juga kehilangan diriku sendiri.”
Hidup jauh dari rumah seringkali membuatnya terlalu bergantung pada orang lain—untuk mencari rasa nyaman, motivasi, bahkan identitas. Puncaknya, ketika ia kehilangan seseorang yang memberinya rasa memiliki, dunianya seakan runtuh. Ia tidak hanya kehilangan orang tersebut, tetapi yang lebih menyakitkan, ia kehilangan dirinya sendiri.
Ia mulai mempertanyakan nilainya, tujuannya, dan apa yang sebenarnya ia lakukan. Pada titik terendah itu, Bintang tidak sedang mencari organisasi atau peluang; ia sedang mencari cara untuk membangun kembali dirinya. Dan saat itulah, AIESEC hadir dalam hidupnya.
Bagaimana AIESEC Hadir di Kehidupan Bintang
Bintang bergabung dengan AIESEC bukan dengan ambisi besar, melainkan dengan keinginan sederhana yaitu ‘mencari arah’. Namun, dari situ lah dia bisa menjadi sehebat sekarang. Melalui berbagai proyek, peran dan interaksi dengan banyak orang yang searah dan sepemikiran dengannya, ia belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang keberanian untuk bertumbuh, meskipunketika situasi terasa tidak pasti.
AIESEC mengajarkannya untuk memimpin dirinya sendiri dan proses belajarnya. Ia belajar menjadi lebih berani bersuara, memimpin meskipun takut, dan menerima bahwa pertumbuhan seringkali datang dari tantanganyang membuat kita tidak nyaman. Dari sana, perlahan tetapi pasti, Bintang menemukan kedamaian di tengah kekacauan, kepercayaan diri di tengah keraguan, dan arah di tengah kebingungan.
Ia belajar bahwa menjadi pemimpin bukan dimulai dari mengubah diri orang lain, melainkan dengan memahami dan menyembuhkan diri sendiri terlebih dahulu.
Profesionalitas antara Kuliah, Prestasi dan Organisasi
Menyeimbangkan peran sebagai Team Leader Government, Network Maintenance di AIESEC in USU 2025 dengan kuliah sebagai mahasiswi fisika dan tetap berprestasi di kompetisi yang diikutinya jelas bukan hal yang mudah. Di satu sisi, ia tenggelam dalam laporan praktikum dan persiapan kompetisinya, di sisi lain ia berdiskusi dengan Dispora Sumut, Bappelitbang dan dinas-dinas lainnya serta organisasi-organisasi di USU untuk menjalin kolaborasi dan memperluas jaringan AIESEC.
Namun, bagi Bintang, keduanya bukan beban yang bertabrakan, melainkan dua sisi dari perjalanan yang semakin membuatnya bertumbuh dengan mengasah logika dan empati sekaligus. Jika fisika dan kompetisi melatihnya untuk berpikir secara sistematis dan analitis, AIESEC menajamkan kemampuan kritisnya, sekaligus memperkuat kepekaan terhadap orang lain dan situasi sosial, sehingga menghasilkan keseimbangan antara pemikiran rasional dan empati yang mendalam.
Proses Setiap Langkah Bintang
Bintang bukanlah seorang yang selalu menang. Sejak tahun pertama kuliah, ia sudah berkali-kali mengikuti kompetisi dan sebagian besar berakhir dengan kegagalan. Namun, justru dari sana ia belajar bahwa kegagalan bukan tanda ketidakmampuan, melainkan bagian dari proses.
Baginya, yang terpenting bukan hasil akhir, melainkan niat di awal. Ia percaya setiap langkah harus dimulai dengan tujuan yang tulus untuk belajar. Sebab keberanian untuk mencoba, rasa ingin tahu yang tak pernah padam dan kerendahan hati untuk terus belajar, itulah yang akhirnya membawa dirinya sampai ke titik sekarang.
Hasil dari Proses Bertumbuh
Kini, setelah berbagai pencapaian dan perjalanan, Bintang memandang dirinya dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi mencari makna di luar diri, karena melalui AIESEC, ia telah belajar menemukan makna itu dari dalam. Kemenangannya bukan sekadar penghargaan dalam kompetisi nasional, tetapi kemenangan dalam mengenali dirinya sendiri, dalam menemukan arah hidup, kedamaian, dan keberanian untuk terus melangkah.
Perjalanan Bintang mengingatkan bahwa menjadi pemimpin harus dimulai dengan memimpin diri sendiri. Sebelum menginspirasi orang lain, kita harus berani menyembuhkan dan membangun diri kita sendiri. Seperti yang kini diyakininya, setiap kegagalan hanyalah peluang yang sedang menyamar, peluang untuk tumbuh, berproses, dan akhirnya bersinar.
Teks: AIESEC in USU
Editor: Sabda Maulana