Listen

Ramah Disleksia

A

A

Nama Medpart

Aksi Gelap Gulita Pendidikan Indonesia: Mahasiswa Desak Pemerintah Realisasikan Pendidikan Gratis Berkualitas

Fotografer : Ariel

Jakarta, majalahketik.com— Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta Pusat, pada Rabu (18/02/2026). Aksi bertajuk “Gelap Gulita Pendidikan Indonesia” yang menyoroti sejumlah permasalahan krusial dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Aksi ini merupakan aksi simbolik yang diinisiasi oleh BEM SI di seluruh wilayah di Indonesia untuk menyatukan suara dan membangun narasi bersama mengenai “Gelap Gulita Pendidikan Indonesia” Selain itu, aksi ini diselenggarakan sebagai bentuk tekanan politik untuk pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Koordinator aksi wilayah, Abdan, mengatakan bahwa alasan BEM SI menggelar aksi ini adalah untuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai tidak sanggup memenuhi pendidikan yang berkualitas sebagai kebutuhan primer masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pendidikan sebagai hak setiap rakyat Indonesia telah diatur dalam konstitusi. Namun, menurutnya penyelenggaraan pendidikan saat ini bukan lagi diposisikan sebagai hak, melainkan syarat akan komersialisasi dan monopoli.

Pendidikan gratis menjadi salah satu tuntutan dari aksi ini. Abdan mengatakan bahwa dibanding program seperti MBG yang belum jelas secara alokasi dan distribusinya, pendidikan gratis yang berkualitas lebih nyata dampaknya.

“Pendidikan gratis adalah upaya dan cita-cita bagi masyarakat kita,” ujar Abdan.

Ia menjelaskan bahwa dengan pendidikan gratis yang berkualitas, tujuan Indonesia emas 2045 bukan lagi wacana belaka. Namun, ia menekankan pendidikan gratis yang berkualitas tidak boleh diselenggarakan secara parsial, tetapi secara merata.

Ketua BEM Polimedia sekaligus massa aksi, Ujang Rahman, menjelaskan bahwa motivasi keterlibatannya dalam aksi ini adalah bentuk penerapan fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan. Ia mengatakan, bahwa aksi ini juga merupakan sarana untuk mencerdaskan masyarakat serta ruang mengkritisi kebijakan pemerintah terkait permasalahan nasional saat ini.

Ujang mengatakan, bahwa tajuk aksi “Gelap Gulita Pendidikan Indonesia” merupakan cerminan dari kondisi perkembangan pendidikan Indonesia selama 5 tahun kebelakang. Ia menambahkan, bahwa bagaimana pemerintah saat ini memotong anggaran pendidikan dan mengalokasikannya ke program lain itu sudah memutus harapan anak bangsa.

“Gelap gulita ini patut menjadi isu penting untuk dipedulikan masyarakat, tentunya bagi anak-anak bangsa yang punya cita-cita dan harapan untuk menjadi penerus bangsa.” ujar Ujang.

Ujang berharap aksi ini dapat menjadi tonggak perubahan. Ia menuntut pemerintah mengubah arah kebijakan yang tidak sesuai kebutuhan masyarakat serta mengembalikan pendidikan sebagai hak bagi anak-anak bangsa.

Dalam tuntutannya, Ujang berharap Dewan Perwakilan Rakyat sebagai pemangku kebijakan untuk meninjau kembali regulasi pendidikan yang dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, serta Presiden Prabowo Subianto diharapkan dapat mengevaluasi kebijakan pendidikan yang berdampak luas terhadap kesejahteraan rakyat. Selain itu, Mahkamah Konstitusi juga diharapkan dapat mengawasi kebijakan-kebijakan dari pemerintah.

terdapat 4  tuntutan  dari para mahasiswa, yaitu;

  1. Merealisasikan pendidikan gratis yang berkualitas secara sistemik bukan parsial dan simbolik, tetapi sebagai wujud keadilan dan kehadiran negara.
  2. Jaminan kesejahteraan guru yang berkeadilan dan berkelanjutan, sebab kualitas pendidikan tidak mungkin berdiri tanpa kepastian
  3. Evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan yang mengintervensi anggaran pendidikan, termasuk ketentuan dalam undang-undang nomor 17 pasal 22 ayat 3 yang melemahkan prioritas konstitusional pendidikan.
  4. Audit independen dan transparan terdapat distribusi anggaran pendidikan di setiap daerah, untuk memastikan prinsip akuntabilitas, efisiensi, dan pemerataan secara holistik.

Aksi yang diikuti oleh lebih dari sepuluh kampus ini disebut sebagai langkah awal. Abdan menyatakan akan terus mengawal semua tuntutan serta menyiapkan rekomendasi berbasis akademik.

“Jika dari pemerintah saat ini tidak mendapatkan ataupun belum mendapatkan atensi, bahkan hanya untuk melihat isu pendidikan sebagai isu segelintir, bukan sebagai prioritas, maka jelas kami akan kembali dengan berlipat-lipat ganda dengan suara yang lebih keras, dengan substansi yang lebih maksimal, untuk menyodorkan baik secara gagasan akademis, arah intelektualnya untuk dapat merekomendasikan solusi pendidikan yang nyata untuk Indonesia” Ujar Abdan.

Teks: Irham Rusyda Ibnu Liandra

Editor: Falza Azahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts