Nama Medpart

Pemerintah Perluas Subsektor Ekonomi Kreatif, Polimedia Jawab Kebutuhan Industri

Sumber : Humas Polimedia
Sumber : Humas Polimedia

Jakarta, majalahketik.com – Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) secara resmi memperluas cakupan subsektor ekonomi kreatif nasional dari 17 menjadi 21 subsektor. Langkah strategis yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026–2045 ini merespons pesatnya dinamika teknologi dan kebutuhan pasar global modern.

Empat subsektor baru yang ditambahkan meliputi teknologi baru, konten digital, sulih suara, dan modifikasi otomotif. Perluasan ini dirancang agar peta jalan pengembangan ekonomi nasional menjadi jauh lebih adaptif terhadap kemajuan riset, inovasi, serta lanskap industri masa kini.

​Menanggapi kebijakan nasional tersebut, Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) bergerak cepat mengambil peran sentral. Sebagai perguruan tinggi vokasi yang berfokus utama pada persiapan karier mahasiswa, Polimedia merespons perluasan 21 subsektor ini sebagai pijakan utama dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang presisi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Direktur Polimedia, Dwi Riyono, menegaskan bahwa penambahan subsektor ekonomi kreatif bukan sekadar perubahan nomenklatur di tingkat birokrasi, melainkan sinyal kuat bagi lembaga pendidikan vokasi untuk mentransformasi diri secara cepat. Menurutnya, Polimedia berkomitmen menjadi strategic talent hub yang secara konsisten menyuplai SDM kreatif, berkualitas, dan siap berkontribusi langsung di seluruh ranah industri kreatif nasional.

​“Kami melihat kebijakan ini sebagai momentum untuk memperkuat kurikulum berbasis industri, memperluas riset terapan, menghasilkan inovasi yang memiliki nilai ekonomi, serta membangun talenta yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan,” ujar Direktur Polimedia, Dwi Riyono.

​Komitmen Polimedia dalam mendukung ekosistem ekonomi kreatif diwujudkan melalui serangkaian langkah konkret. Di antaranya pengembangan teaching factory berbasis proyek industri, penyusunan kurikulum bersama para praktisi, program magang intensif, pelibatan dosen praktisi dalam riset terapan, kolaborasi inkubasi startup kreatif, hingga ekspansi kerja sama internasional di bidang media kreatif dan ekonomi digital. Langkah-langkah ini memastikan proses pembelajaran di kampus selalu selaras dengan ritme industri yang bergerak cepat.

​“Kami ingin menjadikan Polimedia sebagai laboratorium inovasi ekonomi kreatif, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar dari industri tetapi juga menjadi bagian dari proses transformasi dari industri itu sendiri,” tambah Dwi.

​Secara nasional, Rindekraf 2026–2045 menargetkan peningkatakan kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga mencapai 11 persen pada tahun 2045, sekaligus memosisikannya sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi (The New Engine of Growth). Sebagai institusi vokasi yang berkecimpung langsung di ranah ini, Polimedia menjadikan Rindekraf 2026–2045 sebagai rujukan strategis dalam merumuskan kebijakan akademik dan pengembangan pendidikan.

​Penyelarasan kurikulum dilakukan melalui fokus pada keahlian masa depan (future skills), penguatan kompetensi digital, kecerdasan artificial, teknologi kreatif, serta komersialisasi hasil riset terapan. Di samping itu, penguatan kewirausahaan mahasiswa dan perlindungan Kekayaan Intelektual (KI) menjadi pilar utama agar lulusan tidak sekadar menjadi pengikut perubahan, melainkan penggerak utama pencapaian target nasional 2045.

​Salah satu strategi prioritas Polimedia dalam mendukung pencapaian Rindekraf adalah melakukan reorientasi pada unit inkubator bisnis kampus. Inkubator ini ditransformasikan dari ruang pendampingan start up konvensional menjadi pusat bisnis kreatif dan inovasi (innovation and creative business) yang menyatukan unsur pendidikan, riset, teknologi, industri, hingga akses pembiayaan. Dalam skema baru ini, pendampingan difokuskan pada validasi pasar sejak awal ide muncul, penyusunan model bisnis, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), serta sertifikasi dan standarisasi produk. Mahasiswa juga dibimbing untuk membuka akses pendanaan dari investor hingga produk yang dihasilkan mampu menembus pasar nasional maupun internasional.

​Dwi menegaskan bahwa ukuran keberhasilan inkubator bisnis tidak lagi dinilai dari seberapa banyak jumlah penyewa (tenant), melainkan dari ketahanan usaha dan dampak ekonomi nyata yang dihasilkan bagi masyarakat.

​Di sisi evaluasi lulusan, Polimedia meninggalkan pola lama yang hanya menghitung persentase kelulusan atau tingkat kebekerjaan kasar. Kampus ini mengadopsi pendekatan pengukuran yang lebih komprehensif berbasis hasil dan dampak (outcome and impact). Indikator pencapaian kini mengukur persentase lulusan yang bekerja sesuai bidang kompetensi, masa tunggu mendapatkan pekerjaan, serta proporsi lulusan yang terserap khusus di 21 subsektor ekonomi kreatif.

​Selain itu, indikator keberhasilan juga mencakup jumlah lulusan yang berwirausaha, besaran tingkat pendapatan awal, serta tingkat kepuasan pengguna lulusan (employer satisfaction) untuk melihat seberapa baik performa, sikap, dan kualifikasi alumnus di mata industri. Polimedia turut mengintegrasikan hasil tracer study dengan intelijen pasar kerja (labor market intelligence) dan analisis data ketenagakerjaan guna mengevaluasi kurikulum secara berkala.

​“Dengan mengembangkan pendekatan yang lebih komprehensif berbasis outcome dan impact. Pendekatan tersebut, keberhasilan pendidikan vokasi tidak hanya diukur dari jumlah lulusan tetapi dari sejauh mana lulusan mampu menjadi talenta produktif, inovatif, adaptif, dan berdaya saing global,” tutup Dwi Riyono.

​Pada akhirnya, Polimedia Kreatif optimis bahwa arah masa depan ekonomi kreatif Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya investasi modal atau kemajuan fasilitas teknologi, melainkan oleh kualitas SDM kreatif yang adaptif dan berdaya saing. Melalui penguatan kurikulum, riset terapan, dan kemitraan strategis, Polimedia mengukuhkan komitmennya sebagai pelopor pendidikan vokasi kreatif yang siap melahirkan inovator muda, mendorong lahirnya startup berkelas dunia, serta menjadi mitra utama pemerintah dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.


Teks: Kamila Nurhaniyah
Editor: Falza Azahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts