A Normal Woman, Mengangkat Isu Drama Psikologis dan Hak Kebebasan Perempuan
Jakarta, majalahketik.com – A Normal Woman adalah film drama psikologis garapan sutradara Lucky Kuswandi di bawah naungan rumah produksi Netflix. Film ini meraih skor 4,3/10 di IMDb. Menceritakan tentang karakter protagonis Milla (Marissa Anita), ia digambarkan sebagai perempuan sosialita berusia 36 tahun yang tampak menjalani kehidupan ideal, suami sukses dan penampilan sempurna. Namun, kehidupannya mulai diganggu misteri berupa ruam kulit yang gatal dan halusinasi tentang anak bernama Grace. Gangguan itu menjadi penanda keretakan identitas dirinya.
Milla mulai mempertanyakan siapa dirinya dan apa yang disembunyikan orang-orang darinya. Film ini mengangkat isu mengenai kurungan terhadap tubuh serta pandangan masyarakat terhadap perempuan, juga ekspektasi tinggi di lingkaran sosialita kelas atas. Lewat garis visual yang gelap, narasi menampilkan ketegangan gender dan tekanan normatif terhadap tubuh Perempuan. Penonton juga diperkenalkan pada sosok Liliana (Widyawati), mertua Milla, yang digambarkan otoriter. Kehadirannya menyiratkan bagaimana tekanan keluarga memperkuat ketidakbebasan perempuan atau Milla sebagai istri Jonathan (Dion Wiyoko).
Lucky Kuswandi menggagas ide cerita film ini dari pengalaman pribadinya ketika melakukan riset tentang chronic pain dan penyakit autoimun. Ia menemukan bahwa tubuh manusia memiliki cara memberi tanda ketika ada sesuatu yang keliru dalam menjalani hidup, seolah mengingatkan agar seseorang dapat hidup dengan lebih autentik. Gagasan itu kemudian ia tuangkan dalam film A Normal Woman, yang dipresentasikan dalam acara Next on Netflix di Jakarta.
Milla meyakini dirinya mengidap penyakit misterius. Namun, anggapan itu diyakininya sebagai mitos dan dinilai sebagai bentuk kurangnya rasa syukur oleh Lilliana, mertua Milla yang diperkenalkan sebagai sosok otoriter dan gemar ikut campur dalam rumah tangga. Minimnya dukungan serta pembelaan dari Jonathan, suami Milla, semakin menambah rasa kesal saat menyaksikan film ini.
Secara estetika sinematografi dan artistik, Lucky Kuswandi bersama Netflix berani menggelontorkan anggaran besar untuk menyewa sebuah properti berupa rumah, mobil, hingga pesta mewah yang ditampilkan dalam film. Semua itu menggambarkan kehidupan masyarakat kelas sosialita atas dan pebisnis kelas atas. Dari segi visual, film ini dapat membuat penonton merasa seolah berada disisi batin dan pikiran karakter Milla.
Sejak awal, alur cerita sebenarnya sudah memberi petunjuk ke mana arah film akan dibawa. Namun, Lucky Kuswandi mampu menghadirkan plot twist yang mengejutkan. Selain menghadirkan drama psikologis, film ini juga menampilkan isu feminisme dengan cukup kuat. Setiap karakter digambarkan memiliki pandangan dan sisi masing-masing, diperkuat dengan penggunaan adegan kilas balik yang memperkaya pemahaman penonton. Melalui pendekatan itu, film ini mengeksplorasi impian, hak, dan kebebasan perempuan dalam menentukan pilihannya sendiri.
Secara keseluruhan, film ini menegaskan bahwa “normal” tidak selalu identik dengan bahagia atau selaras dengan panggilan tubuh dan keinginan diri. Kata “normal” justru kerap menjadi belenggu yang membatasi hak dan mimpi perempuan. Kekerasan verbal maupun sikap tidak mendukung dalam rumah tangga sering kali merusak mental secara perlahan, mengikis identitas diri, dan mematikan keinginan untuk bebas.
A Normal Woman berhasil membuka ruang dialog tentang kebebasan perempuan di ranah rumah tangga maupun sosial. Meski penyampaiannya terkadang kurang presisi, pesan utamanya tetap terasa kuat, perbedaan adalah bentuk pemberdayaan, sekaligus penegasan akan pentingnya ruang bagi perempuan untuk menyembuhkan diri dan menentukan jalannya sendiri.
Sutradara : Lucky Kuswandi
Produser : Kevin Ryan Himawan
Ditulis oleh : Andri Cung
Lucky Kuswandi
Pemeran : Marissa Anita
Dion Wiyoko
Gisella Anastasia
Mima Shafa
Widyawati
Hatta Rahandy
Penata musik : Abel Huray
Sinematografer : Batara Goempar
Penyunting : Dinda Amanda
Perusahaan produksi : Soda Machine Films
Tanggal rilis : 24 Juli 2025 (Netflix)
Durasi : 110 menit
Negara : Indonesia
Bahasa : Indonesia
Inggris
Rating : 4,3/10 IMDb
Teks: Nur Aprilia Fitri
Redaktur: Intan Safitri