BEM SI Gelar Aksi Desak RUU SISDIKNAS
Mahasiswa yang tergabung ke dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI Jakarta Pusat, Senin (05/10/26). Dalam aksi kali ini mahasiswa berfokus untuk mendesak pemerintah untuk segera membahas, merevisi, dan mengesahkan RUU Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) dan realisasikan pendidikan gratis berkualitas.
Angga Almaharis Harahap selaku koordinator media BEM SI menyebut bahwa latar belakang BEM SI menggelar aksi ini adalah untuk mengawal janji Presiden Prabowo yang menjanjikan pendidikan gratis hingga pendidikan tinggi.
“Kita turun untuk mengkawal, mengkaji, mengkonsolidasikan dengan teman-teman BMSI seluruh Indonesia. Dan hari ini sampai turun aksi untuk betul-betul menagih, kapan pendidikan gratis itu betul-betul direalisasikan di negara ini.” Ujar Angga.
Selain itu, Angga juga menekankan bahwa realisasi pendidikan gratis nantinya nantinya bukan hanya berfokus kepada pembebasan biaya, tetapi harus berbarengan dengan perbaikan sistem pendidikan, sehingga ia menyebut dapat tercipta pendidikan gratis yang berkualitas bagi seluruh anak bangsa.
Angga menyebut bahwa pembahasan dan revisi RUU SISDIKNAS sangat penting untuk masa ini karena menyangkut bagaimana penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan. Ia juga menyebut bahwa UU SISDIKNAS yang baru nantinya harus mengakomodasi berbagai kepentingan di dunia pendidikan yang pro rakyat, seperti kesejahteraan guru, pendidikan gratis yang berkualitas, serta wajib belajar hingga perguruan tinggi.
“RUU ini penting untuk dibahas, diisahkan kembali yang memang menjadi undang-undang yang betul-betul pro kepada masyarakat, yang betul-betul memberikan dampak positif kepada rakyat, baik dari sistem pendidikan yang semakin maksimal dan semakin berkualitas, dan juga kesejahteraan guru yang betul-betul dijamin oleh negara,” ujar Angga.
Selain itu, BEM SI juga menyoroti persoalan pembiayaan pendidikan gratis. Dalam kajiannya, pendidikan gratis dinilai berpotensi membebani fiskal negara. Menanggapi hal tersebut, Angga mengatakan pemerintah perlu mengoptimalkan anggaran 20% pendidikan agar benar-benar digunakan untuk kebutuhan pendidikan.
Selain pembiayaan, BEM SI turut mempertimbangkan dampak kebijakan pendidikan gratis terhadap perguruan tinggi swasta. Angga menilai apabila pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN) bisa diakses tanpa biaya, pemerintah juga perlu memberikan dukungan kepada perguruan tinggi swasta (PTS) agar masyarakat yang tidak mendapatkan akses ke PTN tetap memperoleh kesempatan pendidikan. Ia juga menjelaskan bahwa bantuan seperti KIP yang tadinya ada di PTN bisa dialihkan ke PTS.
“Anggaran pemerintah untuk KIP dan dana lain-lain yang seharusnya dibayarkan itu kita alihkan ke swasta agar orang-orang yang mungkin mempunyai dana yang tidak lebih, atau orang-orang yang tidak mampu, yang hanya bisa mendapatkan akses di perguruan tinggi swasta, masih mendapatkan bantuan dari pemerintah,” ujar Angga.
Ketua departemen sosial politik BEM Polimedia, Muhammad Arjuna, menyampaikan pandangannya terkait pendidikan hari ini. Ia mengaku alasannya turun ke jalan pada hari ini berasal dari keresahannya terhadap kondisi pendidikan Indonesia saat ini. Ia menilai bahwa saat ini pendidikan kurang diprioritaskan, lantaran banyak dana yang seharusnya dialokasikan untuk pendidikan, tetapi dipangkas dan dialokasikan ke hal lain yang tidak menjadi prioritas masyarakat.
“Kita bisa melihat bahwasannya, banyak sekali dari dana ataupun keuangan yang seharusnya dialokasikan untuk pendidikan itu malah dipangkas dan dialokasikan ke hal lain, yang memang sekiranya belum menjadi prioritas kita seutuhnya sebagai masyarakat.” Ujar Arjuna.
Selain itu, ia juga menyoroti kondisi pendidikan di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Menurutnya mereka belum sepenuhnya mendapatkan akses pendidikan yang layak. Ia menyebut bahwa fasilitas seperti meja, kursi, dan ruang kelas di daerah 3T masih jauh dari kata berkualitas.
“Mereka dikasih makan gratis, sedangkan ruang kelas mereka saja itu benar-benar tidak berkualitas dari segi tempat duduknya, meja, dan segala macamnya. Dan hal-hal seperti itu yang sekiranya menjadi concern kita sekarang.” Ujar Arjuna.
Terkait pendidikan gratis dan isi tuntutan aksi BEM SI pada hari ini, Arjuna menilai bahwa itu adalah hal yang bagus dan penting untuk direalisasikan. Ia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo sudah menyampaikan ingin mengadakan pendidikan gratis dari jenjang dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, maka ia pada aksi ini ingin mengawal dan mengusahakan janji tersebut. Ia juga menyampaikan dukungannya terhadap pembahasan dan pengesahan RUU SISDIKNAS.
Arjuna mempunyai harapan untuk pendidikan Indonesia. Ia berharap ada peningkatan mutu dan kualitas pendidikan serta mengedepankan aspek pendidikan yang utama.
“Sampai akhirnya nanti kita sebagai mahasiswa, dan juga kawan-kawan kita sebagai masyarakat, sebagai siswa yang memang seharusnya sekolah, mendapatkan pengalaman ilmu, jadi bisa mendapatkan kualitas yang layak. Tidak hanya sekedar belajar, tapi bisa juga meningkatkan kualitas mutunya,” Ujar Juna.
Dalam aksi hari ini, Angga menyebut bahwa terdapat audiensi dari pihak DPR RI, yaitu wakil pimpinan DPR RI. BEM SI juga menyerahkan Police brief yang berisikan kajian dan tuntutan kepada pihak DPR RI untuk ditanda tangani.
“Alhamdulillah tuntutan pada hari ini sudah direspon oleh pimpinan DPR RI langsung, dam Wakil Ketua DPR RI. Maka tinggal bagaimana kita mengkawal tuntutan tersebut.” Ujar Angga
Terdapat empat tuntutan dari BEM SI dalam aksi kali ini, yaitu;
1. Desak pembahasan dan revisi UU Sisdiknas secara partisipatif dan komprehensif
2. Mendesak pemerintah untuk merealisasikan pendidikan gratis
3. Sejahterakan guru dan tenaga kependidikan
4. Jamin keberlanjutan PTS dalam kebijakan pendidikan tinggi gratis
Namun, Angga menyebut bahwa BEM SI akan terus mengawal tuntutan ini sampai waktu yang sudah mereka janjikan, yaitu awal 2027. Jika hingga waktu yang sudah dijanjikan belum ada realisasi yang dilakukan pemerintah, maka BEM SI akan kembali turun untuk kembali mengawal isi tuntutan.
“Tapi kita tunggu sampai awal 2027 yang sudah mereka janjikan, akan diimplementasikan, akan direalisasikan pendidikan gratis ini, apabila sampai itu betul-betul tidak direalisasikan dari apa yang mereka bilang, maka kita akan turun kembali dengan masa yang lebih besar, untuk mengkawal pendidikan gratis ini,” tutup Angga.
Teks: Irham Rusyda Ibnu Liandra
Editor: Hanum Ayu