Jakarta, majalahketik.com — Aksi Kamisan kembali digelar di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/01/2026). Aksi penuntutan keadilan ini telah berlangsung sejak tahun 2007, diikuti oleh keluarga korban serta para aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang kini telah memasuki tahun ke-19 dengan tajuk “Bergerak, Bersolidaritas, Merebut Kedaulatan Rakyat!”.
Pada pelaksanaan Aksi Kamisan hari ini, para aktivis menyuarakan tuntutan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang hingga saat ini masih dibiarkan tanpa kejelasan oleh negara. Di sekitar lokasi aksi, tuntutan disuarakan melalui poster, spanduk, serta orasi yang menuntut dihentikannya impunitas atas kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Salah satu dari keluarga korban, Maria Catarina Sumarsih, atau yang dikenal dengan Ibu Sumarsih, ibu dari almarhum Bernardinus Realino Norma Irmawan (Wawan), menegaskan bahwa perjuangan Aksi Kamisan ini bertujuan untuk menuntut penyelesaian pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat melalui jalur yudisial.
Ibu Sumarsih menganggap bahwa setiap upaya penyelesaian non-yudisial yang ditawarkan oleh pemerintah hanya akan memperpanjang penderitaan keluarga korban.
“Kami tetap bertahan memperjuangkan penyelesaian yudisial supaya ada jaminan negara, dan tidak terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat di masa depan,” ucap Ibu Sumarsih.
Ibu Sumarsih juga menegaskan bahwa perjuangan Aksi Kamisan hingga saat ini bukan hanya untuk mengenang peristiwa masa lalu, tetapi juga relevan dengan kondisi demokrasi dan pelanggaran hak masyarakat sampai sekarang.
“Ketika kami tidak mendapatkan perlindungan dari pemerintah, saya percaya Tuhan akan melindungi kami. Sepanjang kami tidak mendapatkan perlindungan duniawi, saya percaya akan dianugerahi perlindungan surgawi,” ujar Ibu Sumarsih.
Ia berharap aksi rutin setiap hari Kamis menjadi sarana untuk meningatkan pemerintah agar berani menindaklanjuti berkas penyelidikan Komnas Hak Asasi Manusia (HAM).
Menurut Ibu Sumarsih, Aksi Kamisan juga menginspirasi generasi muda untuk lebih peduli pada keadilan dan demokrasi. Kebersamaan dan dukungan yang terjalin selama 19 tahun inimenurutnya menunjukkan bahwa perjuangan keluarga korban dan aktivis tidak akan pernah padam meski menghadapi impunitas dan terhambatnya proses hukum.
“Aksi Kamisan penting untuk menegakkan kebenaran di Indonesia. Banyak orang tua kehilangan anak, dan saya merasa seolah itu terjadi pada keluarga saya sendiri. Rasa sedih mereka harus didengar dan diakui oleh negara,” ujar Misbah, salah satu aktivis.
Ia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap pemerintah selama ini yang di nilai belum responsif terhadap perjuangan Aksi Kamisan.
“Kasus-kasus pelanggaran HAM masih sering dibiarkan tanpa hukuman, sementara rakyat yang melawan justru mendapat tekanan. Kami berharap pemerintah segera menindaklanjuti berkas penyelidikan Komnas HAM dan menghentikan upaya yang secara sengaja mengaburkan sejarah,” ujar Fathur, salah satu aktivis.
Aksi Kamisan ke-19 ini menegaskan bahwa perjuangan Hak Asasi Manusia (HAM) bukan hanya soal masa lalu, tetapi juga kedaulatan rakyat hari ini dan masa depan. Dengan bergerak, solidaritas, dan menuntut keadilan, para aktivis menolak impunitas dan memastikan sejarah tidak dimanipulasi oleh pemerintah.
Reporter: Shasha Melodia Az` Zahra
Editor: Falza Azahra