Listen

Ramah Disleksia

A

A

Nama Medpart

Mahasiswa Polimedia Gelar PBB, Angkat Isu Biaya Pendidikan yang Kian ‘Mencekik’

Fotografer: Amarilliys Tiara Andika

Jakarta, majalahketik.com – Selasa, 31 Maret 2026 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Polimedia Jakarta menggelar Panggung Bebas Berekspresi (PBB) berlangsung di Gedung E Hall Polimedia Jakarta. Acara ini diselenggarakan sebagai wadah bagi para mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya dengan penuh semangat. Selain itu dengan tema “pendidikan sekarat” mahasiswa dapat mengambil pesan-pesan yang terkandung dalam seluruh rangkaian acara.

Pembukaan PBB diawali dengan orasi sebagai salah satu unjuk rasa untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa. Kemudian, acara ini dilanjut dengan penyampaian puisi yang mengandung makna mendalam tentang pendidikan. Mahasiswa yang hadir dapat mengekspresikan pendapat pribadi melalui “pohon aspirasi” untuk mengundang mahasiswa mengeluarkan aspirasi terkait dengan apa yang mereka rasakan terkait pendidikan yang ada di Indonesia saat ini. Selain itu, PBB menyediakan “benang merah” yang merupakan partisi untuk menunjukkan kejadian-kejadian selama beberapa tahun kebelakang tentang pendidikan Indonesia khususnya di beberapa daerah.

Rasya, sebagai Ketua Pelaksana PBB mengungkapkan keresahannya bermula dari sebuah paradoks yang disampaikan oleh dosennya. Bahwa, jika konstitusi menjamin pendidikan sebagai hak maka biaya aksesnya akan terus meningkat sehingga membebani rakyat. Ia membandingkan Indonesia dengan negara lain yang mampu memberikan fasilitas pendidikan gratis meskipun sama-sama mengandalkan pajak dari warga negaranya.

“Pendidikan kita seolah sedang ‘dijajah’ oleh kepentingan ekonomi. Solusinya, kita harus merebut kembali hak itu melalui kegiatan media,” ujar Rasya. 

Menurutnya, audiensi dengan petinggi  media menjadi langkah strategis agar isu ini mendapatkan panggung utama di mata pemerintah. Ia juga menekankan pentingnya memaksimalkan media sosial serta aksi-aksi simbolis seperti Aksi Kamisan sebagai pengingat bahwa ada yang salah dalam sistem kita saat ini.

Kritik tajam juga datang dari Aisyah, bagian dari Divisi Kajian dan Strategi. Ia menjelaskan makna mendalam di balik penggunaan seragam SD sebagai simbol perjuangan mereka. Simbolisme ini bukan tanpa alasan, mereka ingin mengenang seorang anak di Ngada yang nekat mengakhiri hidupnya hanya karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis. Tragedi ini menjadi tamparan keras bahwa pemerintah masih kurang memberikan perhatian nyata terhadap kebutuhan dasar Pendidikan. Seragam putih merah tersebut kini menjadi pengingat akan duka atas nyawa yang hilang akibat ketidakmampuan ekonomi dalam mengakses ilmu. 

Sementara itu, Dirga dari Divisi Aksi dan Propaganda menyoroti hilangnya “ruang aman” bagi peserta didik. Menurutnya, jika sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuh kembang justru terasa seperti wilayah “jajahan” karena penyelewengan biaya maka rumah menjadi satu satunya perlindungan terakhir. Namun, ia menekankan bahwa definisi aman sangatlah subjektif.

“Ruang aman itu tercipta ketika siswa merasa nyaman tanpa beban. Salah satu tolak ukurnya adalah ketika tidak ada lagi penyelewengan biaya pendidikan. Itulah kenyamanan yang hakiki,” jelas Dirga. 

Baginya, kenyamanan dan keamanan siswa merupakan indikator utama keberhasilan sebuah sistem Pendidikan.

Melalui gerakan ini para panitia PBB berharap isu mahalnya pendidikan tidak hanya berhenti sebagai obrolan di kantin kampus tetapi bertransformasi menjadi desakan publik yang masif.
Upaya mengembalikan pendidikan sebagai hak dasar, bukan barang mewah yang hanya bisa dibeli oleh segelintir orang, menjadi misi utama yang harus segera dituntaskan sebelum lebih banyak “Ade” lain menjadi korban.

Reporter : Shofi Vidia Alifah

Redaktur : Andien T. Aprillia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts