Nama Medpart

Menolak Normalisasi Kekerasan dalam Psychology Fest 2026

Fotografer : Putri Deira Pasutriani
Fotografer : Putri Deira Pasutriani

Jakarta, majalahketik.com – Mengusung tema When Violence Looks Normal, Psychology Fest 2026 kembali diselenggarakan oleh Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) Polimedia  di Hall Gedung E Polimedia  Jakarta pada Rabu 30 September 2026,untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap berbagai bentuk kekerasan yang kerap dianggap lumrah dalam kehidupan sehari-hari.

Kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan fisik. Perilaku merendahkan, pelecehan, hingga pelanggaran batas pribadi sering kali dianggap sebagai candaan atau kebiasaan yang dapat dimaklumi. Fenomena tersebut menjadi perhatian dalam penyelenggaraan Psychology Fest 2026 di Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia).

Sejak 2024, Psychology Fest kembali menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa untuk memahami kekerasan seksual serta pentingnya menciptakan lingkungan yang aman. Tahun ini, tema When Violence Looks Normal diangkat untuk mengajak mahasiswa lebih peka terhadap perilaku kekerasan yang tanpa disadari telah dinormalisasi di lingkungan sekitar.

Psychology Fest 2026 menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan, di antaranya, talkshow interaktif bersama narasumber dari bidang pemerintahan, psikologi klinis, perlindungan perempuan dan anak, serta Satgas PPKPT Polimedia. Pameran karya kreatif yang menampilkan instalasi dan karya visual mahasiswa dalam menginterpretasikan tema acara. Tenant kuliner yang menyediakan beragam pilihan makanan dan minuman bagi pengunjung. Perlombaan yang turut diikuti peserta dari luar Polimedia.Dalam sesi talkshow, Rizky Hamid, Kepala Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Kota Administrasi Jakarta Selatan, membahas fenomena sosial yang berkaitan dengan perilaku seksual generasi muda. Ia menyoroti kekhawatiran terhadap penurunan angka pernikahan dini, namun diiringi dengan kenaikan angka terhadap perilaku seksual berisiko.

“Tujuan saya memberikan edukasi mengenai sex, saya berharap supaya sex hanya dilakukan setelah menikah,” ujar Rizky Hamid saat menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya edukasi seksual bagi generasi muda.

Terkait penanganan kekerasan, Rizky Hamid menyampaikan bahwa mahasiswa yang membutuhkan bantuan dapat mendatangi kantor pengaduan di Jakarta Selatan. Ia juga mengungkapkan rasa senang dan kekagumannya terhadap kreativitas mahasiswa Polimedia yang ditampilkan dalam Psychology Fest 2026.

Pembahasan mengenai pencegahan kekerasan turut disampaikan oleh Pera Sopariyanti, Direktur Perhimpunan Rahima. Ia menyoroti pentingnya kesadaran terhadap berbagai bentuk kekerasan, pelecehan, dan pemerasan yang berpotensi terjadi di lingkungan kampus maupun ruang publik.

Dalam materinya, Pera menjelaskan strategi 5D yang dikembangkan oleh organisasi global Right To Be dan dikampanyekan melalui gerakan Stand Up untuk melawan pelecehan seksual. Strategi ini memberikan panduan bagi saksi untuk merespons kekerasan melalui lima langkah, yaitu:

  1. Distract: Mengalihkan perhatian pelaku.
  2. Direct: Menegur pelaku secara langsung jika situasi aman.
  3. Document: Mendokumentasikan kejadian dengan tetap menjaga privasi korban.
  4. Delegate: Meminta bantuan pihak berwenang atau orang lain.
  5. Delay: Memberikan dukungan kepada korban setelah kejadian.

Perspektif psikologis juga dihadirkan melalui Ika Putri Dewi, psikolog klinis yang berpraktik di Yayasan Pulih. Kehadirannya melengkapi pembahasan mengenai dampak kekerasan terhadap kondisi psikologis korban serta pentingnya dukungan dan pendampingan dalam proses pemulihan.

Carissa Dwilanisusantya, selaku Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) Polimedia, menjelaskan bahwa Psychology Fest kekegiatan ini terus dihadirkan sebagai sarana edukasi mengenai kekerasan seksual bagi mahasiswa.

“Acara ini merupakan acara tahunan dri 2024 dan 2025 dan tahun ini bertujuan mengedukasi mahasiswa terkait kekerasan seksual,” ungkap Carissa mengenai tujuan penyelenggaraan Psychology Fest.

Pemilihan narasumber dari berbagai latar belakang menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembahasan yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengenali berbagai bentuk kekerasan, memahami langkah pencegahan, serta mengetahui akses bantuan dan pengaduan yang tersedia di lingkungan kampus.

Di balik terselenggaranya Psychology Fest 2026, Ahmad Zulfikar Firdaus selaku Ketua Pelaksana mengungkapkan rasa bahagianya terhadap antusiasme pengunjung. Dengan waktu persiapan sekitar satu bulan, ia tidak menyangka kegiatan tersebut dapat menarik begitu banyak peserta.

“Senang, walau dengan waktu 1 bulan, tidak ekspetasi bisa sangat ramai. Buka lomba untuk mahasiswa saja, antusias pesertanya bisa dari UNPAD, hingga Surabaya,” ungkap Ahmad mengenai antusiasme peserta dan jalannya acara.

Perlombaan yang diselenggarakan turut membuka kesempatan bagi peserta dari luar Polimedia, termasuk Universitas Padjadjaran dan peserta dari Surabaya. Partisipasi tersebut menjadi salah satu bagian dari keterlibatan yang lebih luas dalam rangkaian kegiatan Psychology Fest 2026.

Psychology Fest 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa kekerasan dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk perilaku yang selama ini dianggap biasa. Melalui talkshow, pameran karya, dan berbagai kegiatan lainnya, acara ini mengajak mahasiswa untuk lebih kritis dalam mengenali perilaku yang melanggar batas serta memahami cara meresponsnya.

Tema When Violence Looks Normal mengingatkan bahwa sesuatu yang telah menjadi kebiasaan tidak selalu dapat dibenarkan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran, keberanian, dan kepedulian bersama untuk mencegah kekerasan serta menciptakan lingkungan kampus yang aman dan saling menghargai.

Teks: Mafazah Nur Farchanah

Editor: Falza Azahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts