Stop Overthinking dan Belajar Mengelola Pikiran dengan Metakognisi
Jakarta, majalahketik.com — Di antara Sobat Ketik, mungkin ada yang sering mengalami overthinking setiap malam. Sebuah masalah yang kerap menghantui pikiran dapat menciptakan kekhawatiran, sehingga kamu berharap menemukan solusi atau jawaban yang tepat. Sayangnya, semakin keras kamu berpikir, solusi yang kamu harapkan sering kali tidak terpecahkan.
Overthinking merupakan kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan. Kebiasaan ini dapat menimbulkan dampak negatif, seperti insomnia, kesulitan berkonsentrasi, dan berkurangnya energi. Bahkan, dalam kasus yang paling parah, kondisi ini dapat menimbulkan depresi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, psikolog menemukan bahwa terapi metakognitif dapat memberikan manfaat lebih besar dibandingkan dengan terapi Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Pada dasarnya, metakognisi adalah konsep “berpikir tentang cara berpikir”. Sedangkan, terapi metakognitif merupakan pemahaman bahwa kamu dapat memilih apakah akan terlibat dalam suatu pikiran, terlepas dari isi pikiran tersebut atau perasaan yang ditimbulkannya.
Yuk, simak beberapa cara mengurangi overthinking dengan terapi kognitif agar Sobat Ketik dapat mengontrolnya!
Kenali Trigger Thoughts Kamu dan Biarkan Saja
Jika kamu memberikan perhatian yang cukup pada pikiran-pikiran negatif, pikiran tersebut dapat memicu ledakan sensasi fisik dan perasaan.
Beberapa trigger thoughts dapat memicu perasaan hangat dan bahagia, seperti pada momen bertemu dengan teman, liburan, ataupun proyek menarik yang akan datang. Hal-hal tersebut tidak menjadi masalah. Namun, berbeda jika trigger thoughts mulai memunculkan pertanyaan dan skenario negatif. Misalnya, “Bagaimana jika aku membuat keputusan yang salah?”, “Bagaimana jika mereka tidak menyukaiku?”, atau “Bagaimana jika aku akan sakit?”. Pikiran seperti ini yang dapat menimbulkan kekhawatiran berkepanjangan.
Jadi, sebenarnya bukan trigger thoughts yang menyebabkan kamu merasa kewalahan, melainkan perhatian yang terus diberikan pada pikiran-pikiran negatif tersebut, yang akhirnya menimbulkan reaksi fisik dan perasaan.
Solusinya adalah kamu perlu menyadari saat overthinking mulai mengarah ke hal negatif. Jangan biarkan pikiran negatif terus hidup di kepalamu.
Kenali Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Kamu Kontrol
Misalnya, saat seseorang meneleponmu. Tentunya, kamu tidak bisa mengontrol apakah telepon itu akan berdering, siapa yang akan menelepon, atau kapan telepon tersebut akan berdering. Sayangnya, dalam kasus seperti ini, kamu tidak bisa mematikan telepon begitu saja
Namun, kamu memiliki kendali penuh untuk memilih apakah kamu harus mengangkat telepon itu atau tidak.
Dapat disimpulkan bahwa meskipun trigger thoughts berada di luar kendali kamu, kamu dapat mengendalikan apakah akan terlibat dengannya atau tidak.
Tunda dan Kurangi Overthinking Kamu
Banyak orang yang sering overthinking secara kronis kesulitan untuk mengubah keyakinan bahwa pikiran mereka dapat dikendalikan, dan mungkin kamu juga masih belum yakin.
Misalnya, kamu sedang duduk di kafe bersama teman dan mendengar percakapan di meja lain yang memicu kenangan tidak menyenangkan. Alih-alih terfokus pada kenangan tersebut, kamu memutuskan untuk mengalihkan perhatian kembali ke percakapan dengan temanmu. Itu artinya, kamu baru saja mengendalikan pikiranmu.
Dengan cara yang sama, kamu dapat belajar untuk secara sadar mengabaikan thoughts internalmu sendiri. Dengan begitu, kamu menyadari bahwa kamu benar-benar memiliki pilihan apakah akan terlibat dalam pikiran tersebut atau tidak.
Hindari Avoidance dan Latih Perhatian Kamu
Menolak untuk menghindari situasi yang kemungkinan besar memicu trigger thoughts justru kontraproduktif.
Sebaliknya, lebih baik berlatih melepaskan trigger thoughts kamu. Latihan perhatian, seperti fokus pada suara di sekitarmu dan beralih di antara suara-suara tersebut, dapat membantu kamu menyadari bahwa perhatian kamu berada di bawah kendali kamu.
Dengan demikian, setiap pikiran negatif yang muncul di kepalamu, sesungguhnya bisa kamu kendalikan. Kamu hanya butuh keyakinan dan tekad yang kuat.
Referensi:
Sumber (artikel) psyche.co (2025). “How to stop overthinking”. Diakses pada 6 Maret 2026 dari https://psyche.co/guides/how-to-stop-overthinking-with-help-from-metacognitive-strategies
Sumber (artikel) webmd.com (2024). “Metacognition: How Thinking About Your Thoughts Can Make You Mentally Healthier”. Diakses pada 6 Maret 2026 dari www.webmd.com/parenting/what-is-metacognition
Teks: Raisyah Nabila Putri
Editor: Zalfa Rihhadatul Aisy