Listen

Ramah Disleksia

A

A

Nama Medpart

Satgas PPKPT Polimedia Gelar Psychology Fest 2025 untuk Edukasi Cegah Kekerasan di Kampus

Fotografer : Mochammad Nufail Ghali
Fotografer : Mochammad Nufail Ghali

Jakarta, majalahketik.com – Pada Kamis, 23 Oktober 2025, Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) menggelar Psychology Fest 2025 dengan tema “Break the Silence, Build the Future”. Kegiatan ini berlangsung di Hall Gedung E, Polimedia dan dihadiri para kepala PPKPT dari berbagai perguruan tinggi.

Acara yang digelar satu hari ini menghadirkan sejumlah narasumber inspiratif, di antaranya Inspektur Investigasi ITJEN Diktisaintek, Albertus Agus Windarto serta Penanggung Jawab Tim Pengembangan Karakter dan Kesejahteraan Mahasiswa, Charoline Dewi Virasari.

Albertus Agus Windarto, menekankan pentingnya keseimbangan antara citra institusi dan tanggung jawab moral kampus dalam menangani isu kekerasan. Ia menilai kampus harus terbuka terhadap masukan dan membangun kepercayaan publik melalui kejujuran.

“Setiap mahasiswa adalah pribadi yang berharga, dan kami ingin mereka merasa nyaman di Polimedia sebagai rumah kedua mereka,” ujarnya. 

Pada sesi kedua Talkshow Psychology Fest 2025, acara ini menghadirkan Daniel Topan, seorang penulis naskah sekaligus narasumber inspiratif. Dalam sesi tersebut, Daniel berbagi pengalaman menghadapi tantangan kesehatan mental dan bagaimana ia menyalurkan berbagai emosi dan pergulatan batin melalui karya film. Menurutnya, menulis dan menciptakan cerita bukan hanya bentuk ekspresi diri, tetapi juga media penyembuhan dan refleksi untuk memahami makna hidup dengan lebih dalam.

Ketua Satgas PPKPT Polimedia, Carissa Dwilanisusantya, menyampaikan bahwa Psychology Fest 2025 bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan wadah refleksi dan aksi nyata bagi civitas academica untuk memahami isu kekerasan dari berbagai perspektif.

Carissa menjelaskan, tema “Break the Silence, Build the Future” dipilih karena masih banyak kasus kekerasan di kampus yang tidak dilaporkan. Ia menegaskan pentingnya keberanian korban untuk berbicara dan perlunya ruang aman yang dapat dipercaya. Melalui program ini, PPKPT berupaya memperkuat edukasi sekaligus menggerakkan kampanye kolektif untuk menolak segala bentuk kekerasan.

Ketua pelaksana Psychology Fest 2025, Malik Johansyah, menyampaikan bahwa tahun ini acara dikonsep lebih kolaboratif dan berfokus pada penguatan komunitas internal kampus. Ia menjelaskan, Psychology Fest melibatkan seluruh himpunan mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan agar dapat berkreasi sekaligus menyuarakan nilai-nilai pencegahan kekerasan.

Salah satu mahasiswa Desain Mode Polimedia, Parulian Simbolon menilai acara tersebut menjadi wadah positif bagi mahasiswa untuk mengekspresikan kepedulian terhadap isu kekerasan di kampus. “Banyak booth dari anak (Program Studi) Desain Grafis dan Desain Mode yang menampilkan karya bertema anti kekerasan seksual. Tapi yang paling penting, kita harus sadar kalau isu ini nyata ada di sekitar kita. Kalau melihat pelecehan seksual di kampus, kita harus berani speak up dan lindungi korbannya. Jangan diam, karena diam berarti membiarkan.” 

Awalnya satuan tugas ini dikenal dengan nama Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). Namun, seiring banyaknya laporan yang mencangkup kekerasan fisik, psikis, ekonomi, daring, dan diskriminasi, mandatnya diperluas menjadi PPKPT .

Lebih dari sekadar kegiatan tahunan, Psychology Fest dirancang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa pencegahan kekerasan di kampus adalah tanggung jawab bersama. Melalui kegiatan ini, Polimedia menegaskan komitmennya menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berkeadaban.


Teks: Andien T Aprillia
Editor: Intan Safitri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts