Follow

“Warisan” Senioritas yang Terjadi Secara Turun-Temurun


Sumber: persintelligent.com

Majalahketik.com(12/04/21) – Batasan antara senior dan junior di kampus memang tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Namun, batasan antara senior dan junior justru membentuk suatu kasta menimbulkan masalah yang tidak berkesudahan, yang biasa lebih dikenal dengan senioritas.

Menurut KBBI, senioritas memiliki arti: 1. Perihal senior; 2. Keadaan lebih tinggi dalam pangkat, pengalaman, dan usia; 3. Prioritas status atau tingkatan yang diperoleh dari umur atau lamanya bekerja. Jika dilihat dari pengertian senioritas tersebut, pada dasarnya senioritas merupakan hal yang perlu dan penting di dunia kampus karena senior adalah pembimbing, pengarah, maupun kawan belajar untuk adik tingkatnya. Namun, dalam praktek kesehariannya, istilah senioritas bergeser menjadi lebih identik dengan bullying, perpeloncoan terhadap junior, dan sekat antar angkatan.

Lahan perpeloncoan terbuka lebar bagi mereka yang bermental penguasa saat penerimaan mahasiswa baru. Mereka bertindak sewenang-wenang karena memiliki jabatan, angkatan, atau usia yang lebih tinggi, seolah-olah berhak melakukan apapun terhadap juniornya. Tentu hal ini merupakan perbuatan yang salah, sebab tidak sesuai dengan konsep kaderisasi yang baik. Tindakan perpeloncoan tersebut biasanya terjadi karena pengaruh masa lalu sehingga terjadi secara turun temurun, bisa dibilang merupakan “warisan” dari generasi sebelumnya. Akibatnya, hal ini menjadi tradisi yang sebenarnya tidak diperlukan. Jika sudah seperti ini, dasarnya bukan lagi senioritas, tetapi penguasa dengan perasaan yang semena-mena.

Baca Juga: https://majalahketik.com/alasan-mengapa-mahasiswa-berperan-penting-bagi-kemajuan-bangsa/

Lalu bagaimana cara menjadi senior yang baik sesuai dengan kaderisasi senioritas yang tepat? Jadilah senior yang demokratis, egaliter, komunikasi yang baik, dan menempatkan sebagai kawan. Jika memang perbuatan marah diperlukan, marahlah dengan dasar alasan yang jelas dan tidak dibuat-buat. Cara-cara senior yang membentak, arogan, memperbudak, menyuruh sesukanya, dan lebih parahnya melakukan kekerasan fisik, justru membentuk rasa dendam terhadap junior yang bisa saja dilampiaskan terhadap usia atau tingkatan yang lebih rendah darinya nanti.

Senioritas itu memang diperlukan, apabila menjadi senior yang baik, jauh dari arogansi, tidak “haus” hormat, dan tidak bertindak sewenangnya. Pada dasarnya, kedudukan senior hanya soal waktu saja. Ada yang lebih dulu masuk dan ada yang belakangan. Soal pengetahuan, pengalaman, kedewasaan itu tidak memiliki korelasi dengan usia dan status dengan junior.

Sebagai junior juga perlu menghormati senior. Apabila senior menempatkan diri sebagai kawan, bukan berarti sebagai junior bisa bertindak seenaknya juga dengan senior. Seperti teori ubin; sejajar, namun memiliki batasan. Paling penting sebagai junior adalah tahu waktu untuk kapan harus serius dan becanda terhadap senior.

Semoga Sobat Ketik bisa menjadi kakak tingkat atau adik tingkat yang baik, ya! Agar tindakan senioritas yang bertindak sewenang-wenang tidak terjadi secara turun temurun di lingkungan kamu.

Note: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis. Segala tulisan adalah tanggung jawab penulis.

Jurnalis: Nurlaeli Aida

Editor: Ratih Rachma Juwita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts