Efisiensi vs Kesehatan Mental di Sekolah dan Kampus
Setiap tahun, kampus dan sekolah di Indonesia berlomba-lomba untuk menyebut diri mereka “efisien dan siap menghadapi masa depan”. Dampaknya kurikulum dipadatkan, tenggat diperketat, dan standar capaian dibuat semakin ambisius. Hal itu kalau di atas kertas atau bahkan disorot media, semuanya terdengar ideal. Namun, ada satu komponen yang hampir selalu hilang dari perhatian, yaitu biaya psikologis yang harus dibayar oleh siswa dan mahasiswa. Ini merupkan ironi yang jarang diakui – institusi berbicara tentang efisiensi, tetapi cara mereka bekerja justru berpotensi tinggi menciptakan kebuntuan belajar.
Fenomena ini terlihat paling jelas Ketika beban akademik semakin padat, tetapi kualitas pemahaman justru malah menurun. Banyak institusi Pendidikan menganggap bahwa produktivitas dapat dipaksa dari luar dengan cara memberi tugas dan kepadatan jadwal. Padahal, logika seperti ini cacat sejak awal. Efisiensi bukan soal memperbanyak aktivitas dalam jangka waktu singkat tetapi, efisiensi adalah memaksimalkan hasil dengan energi mental yang terbatas. Sebab, tanpa memahami batas kognitif manusia, apapun yang dipaksa sebagai “efisiensi” sebenarnya hanya akan menumpuk kelelahan.
Kita sering lupa bahwa belajar dapat dikategorikan sebagai aktivitas dengan beban mental yang tinggi. Kosentrasi, analisis, dan kreativitas tidak muncul dari otot yang dikencangkan, tetapi dari kondisi psikologis yang cukup stabil. Penelitian psikologi kognitif sudah berkali-kali menunjukkan bahwa tekanan mental kronis menghambat kemampuan berpikir tingkat tinggi. Bahkan, dari salah satu jurnal international dari Frontiers in Psychology yang berfokus tentang seberapa kuat hubungan antara beban akademik dan tekanan perkuliahan terhadap kondisi mental mahasiswa. Menyatakan bahwa “Academic stress can reduce motivation, hinder academic achievement, and lead to increased college dropout rates” Barbayannis et al. (2022). Artinya, stres akademik dapat menurunkan motivasi, menghambat pencapaian akademik, dan meningkatkan angka putus kuliah. Namun institusi Pendidikan tetap dengan sistem menumpuk tugas seolah-olah daya fokus manusia merupakan sumber daya yang tak terbatas. Yang terjadi kemudian bukan peningkatan kualitas pembelajaran, melainkan pembiasan menjalankan rutinitas tanpa pemahaman.
Masalah utamanya terletak pada anggapan bahwa tanggung jawab ketahanan mental sepenuhnya berada pada setiap individu. Ketika mahasiswa kewalahan, institusi merespons dengan seminar Kesehatan mental, slogan self care, atau membuka ruang konseling. Semua itu mungkin terlihat baik, tetapi sifatnya kosmetik. Karena, faktanya penanganan Kesehatan mental di Indonesia masih kurang baik dari segi tenga, fasilitas dan kualitasnya. Sesuai yang disampaikan Sulis Winurini dalam jurnal Info Singkat DPR RI, bahwa “Penanganan kesehatan mental di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai permasalahan, seperti ketersediaan tenaga dan fasilitas pelayanan kesehatan mental yang masih terbatas dan belum merata, mutu layanan kesehatan mental yang belum memadai, dan terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan mental.” Sehingga jika respons yang diberikan oleh institusi terus sama, maka akar permasalahan tidak akan tersentuh.
Akar persoalan sebenarnya ada pada desain sistem yang keliru. Sistem yang menyamakan antara beban tugas dengan kualitas proses belajar. Padahal, beban yang tidak terkoordinasi justru akan mengakibatkan dorongan bagi mahasiswa untuk mengerjakannya hanya demi tenggat, bukan pemahaman. Hal ini terlihat jelas dalam penelitian yang diangkat oleh Fahlevi et al. (2025), di mana 57,4% mahasiswa mengaku sering menunda tugas hingga mendekati deadline dan 41,6% mengalami stres akibat tekanan waktu. Temuan ini menunjukkan bahwa pola pengerjaan mahasiswa memang bergeser menjadi orientasi “secepat mungkin selesai”, bukan proses belajar yang mendalam. Situasi ini bukan akibat kurannya kemampuan mahasiswa, melainkan buruknya manajemen akademik internal.
Kemudian, kalau dilihat lebih jauh, system penilaian yang terobsesi pada angka biasanya akan membuat dosen dan guru terdorong untuk menghasilkan bukti evaluasi sebanyak mungkin. Akibatnya, tugas-tugas kecil yang repetitif akan sering diberikan untuk memenuhi komponen penilaian, bukan untuk memperdalam pemahaman. Pada titik ini, justru efisiensi akan berubah menjadi sebuah absurditas: dimana institusi mengejar dokumentasi yang rapi, sementara mahasiswanya belajar dalam kondisi setengah sadar.
Saya juga perlu jujur melihat bahwa tekanan mental tidak hanya menurunkan kualitas belajar, tetapi juga mempengaruhi integrasi akademik. Sebab, ketika energi mental terkuras, maka mahasiswa lebih rentan mengambiljalan pintas: plagiat, mengandalkan AI tanpa memahami materi, atau sekedar tugas dengan cara paling cepat tanpa peduli apa yang dikerjakan. Ini bukan semata tentang moral saja, tetapi merupakan konsekuensi logis dari sistem yang menghargai kepatuhan terhadap tenggat lebih tinggi dari pada proses berpikir.
Menurut saya, jika institusi Pendidikan sungguh ingin meningkatkan efisiensi, maka mereka harus mulai dari sebuah pemahaman yang paling dasar bahwa “fokus adalah sumber daya, bukan bonus.” Sistem yang menghargai fokus akan menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dan hasil yang lebih stabil. Namun sebaliknya, sistem yang mengabaikan kondisi mental penggunanya, ini hanya akan menghasilkan lulusan yang terbiasa bekerja dalam keadaan tertekan, tetapi tidak terbiasa untuk berpikir jernih.
Ada beberapa langkah nyata yang bisa dialkukan. Pertama, koordinasi beban akademik terutama pada lintas mata kuliah harus menjadi standar, bukan kebijakan yang opsional. Kedua, fleksibilitas tenggat perlu dipertimbangkan dalam kondisi tertentu, bukan dianggap sebagai kelemahan. Ketiga, institusi harus mengurangi orientasi dokumentasi dan mulai menilai kualitas tugas dari pada kuantitasnya. Dan yang paling penting, kesehatan mental harus diperlakukan sebagai indicator keberhasilan sistem, bukan sebagai tanggung jawab dari individu semata.
Oleh karena itu, menurut pemikiran saya, Pendidikan itu seharusnya membantu manusia untuk tumbuh, bukan membuatnya habis sebelum waktunya. Selama institusi masih mendefinisikan efisiensi dengan cara yang menekan daya piker dan energi psikologis, maka apapun hasil yang dapat dicapai hanya akan menjadi ilusi. Kita membutuhkan sistem yang menghargai kejernihan berfikir, bukan kelelahan dari sebuah proses yang tidak menghasilkan pemahaman. Dan perubahan itu bisa dimulai Ketika kita berhenti menganggap biaya mental sebagai hal yang bisa diabaikan.