Listen

Ramah Disleksia

A

A

Nama Medpart

Fantastic Four: First Steps, Reboot Berani di Semesta Alternatif MCU

ig-@vanessa__kirby

Jakarta, Majalahketik.com – Marvel Studios membuka fase baru dalam semesta sinematiknya lewat Fantastic Four: First Steps, versi baru yang memadukan nuansa modern tanpa meninggalkan akar cerita klasik dari Fantastic Four. Film ini memperkenalkan kembali tim pahlawan legendaris ke dalam MCU melalui semesta alternatif Earth-828. Tidak hadir sebagai pemula, tim ini muncul dalam realitas bergaya retro futuristik tahun 1960-an. Dengan visual mencolok perpaduan drama emosional dan humor khas Marvel, film ini menjadi titik krusial dalam  perkembangan MCU di Fase 6.

Pedro Pascal tampil cakap sebagai Reed Richards, menggambarkan sosok pemimpin yang tenang dan cerdas dalam menghadapi masalah. Sue Storm, yang diperankan oleh Vanessa Kirby, memancarkan keelokan dan kehangatan, terutama dalam momen pengorbanannya sebagai seorang ibu. Joseph Quinn menghadirkan Johnny Storm dengan nuansa dengan cerita dan sentuhan komedi ringan, menciptakan dinamika yang segar. Sementara itu, Ben Grimm yang diperankan oleh Ebon Moss-Bachrach menghadirkan emosi hangat dan menyentuh, terutama saat ia mengenang masa lalunya ketika menatap bayangannya di kaca. 

Di sisi lain, Silver Surfer yang diperankan oleh Julia Garner tampil dengan penuh misteri saat pertama kali muncul dan mengancam Fantastic Four di bumi, dan Ralph Ineson memberi wibawa pada sosok Galactus, entitas berkekuatan kosmik yang menjadi pusat ancaman utama. Chemistry antarkarakter mengalir alami namun tetap kuat, menopang alur cerita yang berfokus pada ikatan kekeluargaan para pahlawan di tengah krisis besar dan tekanan dari dunia.

Disutradarai Matt Shakman, film ini membawa penonton menyaksikan dunia di mana Fantastic Four telah lama beraksi sebagai tim pahlawan dunia, tanpa mengulang narasi asal-usul dengan panjang. Pilihan ini membuat alur terasa padat dan langsung ke inti cerita. Matt Shakman mahir memadukan ketegangan, kehangatan keluarga, dan humor dalam satu kesatuan utuh, menjadikan film ini bukan sekadar tontonan aksi, tetapi juga pengalaman emosional bagi penonton.

Visual yang kuat menjadi salah satu daya tarik utama film ini. Sudut pengambilan gambar mempertegas kesan dramatis tanpa mengabaikan fokus pada karakter. Adegan luar angkasa dan kehancuran planet digambarkan dengan skala besar dan sinematik, memperkuat intensitas ancaman Galactus.

Michael Giacchino menunjukkan kepiawaiannya dalam menyusun skor musik yang memperkuat nuansa cerita. Komposisi orkestra klasik dibagian pembuka membangun rasa nostalgia. Sementara itu, musik pengiring saat kmunculan Galactus dan adegan pengorbanan Sue Storm menjadi penanda emosi paling kuat dalam film.

Berlatar di dunia alternatif tahun 1960-an, Fantastic Four: First Step langsung membawa penonton ke dalam konflik besar. Galactus, makhluk pemakan planet, datang ke Bumi dengan Silver Surfer sebagai herald-nya. Fantastic Four, yang telah lama dikenal sebagai pahlawan publik, harus melindungi dunia sambil menghadapi konflik pribadi. Ketika krisis memuncak, Sue Storm dihadapkan pada keputusan sulit untuk menyelamatkan putranya, Franklin, atau mengorbankannya demi keselamatan umat manusia. Sementara itu, Silver Surfer mulai meragukan kesetiaannya pada Galactus, dan keseimbangan kekuatannya pun berubah saat Johnny mengingatkannya akan masa lalu.

Naskah yang ditulis oleh Jeff Kaplan, Ian Springer, Josh Friedman, dan Eric Pearson terasa solid dan efektif. Alur cerita tersusun rapi tanpa tergesa-gesa. Dialog mengalir alami, menyampaikan emosi, humor, dan kecerdasan karakter secara seimbang. Interaksi antaranggota tim terasa hidup, menunjukkan kedekatan dan kekeluargaan yang telah lama terjalin.

Kualitas CGI dan efek visual dalam film ini patut diacungi jempol. Desain Galactus yang  megah tanpa berlebihan, sementara Silver Surfer dianimasikan dengan presisi dan estetika tinggi. Adegan kehancuran planet divisualisasikan dengan detail dan tetap menjaga kualitas sinematik. Perpaduan visual retro dengan teknologi modern menciptakan atmosfer unik yang jarang ditemukan di film MCU lainnya.

Sebagai langkah awal kembalinya Fantastic Four ke layar lebar, film ini sukses menghadirkan nuansa retro-futuristik dengan sentuhan modern tanpa menghapus akar klasiknya. Akting yang solid, visual bergaya, dan narasi yang tertata menjadikannya pengalaman sinematik yang menjanjikan. 

Di babak akhir, kemunculan perdana Victor Von Doom, seorang ilmuwan dan pemimpin Latveria langsung memberi dampak besar, menjadi ancaman baru yang lebih ideologis dan personal. Adegan pascakredit mengonfirmasi bahwa Fantastic Four akan kembali dalam Avengers: Doomsday yang dijadwalkan akan tayang pada 2026. Kehadiran Dr. Doom dan konfirmasi sekuel tersebut menegaskan posisi film ini sebagai awal dari fase konflik besar yang akan mengguncang semesta MCU di masa depan.

Sutradara: Matt Shakman
Produser: Kevin Feige
Penulis Skenario: Jeff Kaplan, Ian Springer, Josh Friedman, Eric Pearson
Pemeran: 
  • Pedro Pascal 
  • Vanessa Kirby 
  • Ebon Moss-Bachrach
  • Joseph Quinn 
  • Julia Garner 
  • Sarah Niles 
  • Mark Gatiss
  • Natasha Lyonne
  • Paul Walter Hauser 
  • Ralph Ineson
Sinematografi: Jess Hall
Tahun Rilis: 2025
Genre: Aksi, Fiksi Ilmiah, Superhero
Durasi: 115 menit
Perusahaan Produksi: Walt Disney Studios Motion Pictures, Marvel Studios
Rating: 7.4/10 menurut IMDb

Teks: Nasywa Davina 

Editor: Intan Safitri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts