Listen

Ramah Disleksia

A

A

Nama Medpart

Kecerdasan Emosional dan Disiplin Jadi Sorotan dalam Seminar yang Diselenggarakan Konselor Sebaya Polimedia

Foto: ig @konselorpolimedia

Jakarta, majalahketik.com – Konselor Sebaya Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) menggelar seminar pengembangan diri mahasiswa dengan tema “Building Emotional Intelligence and Discipline for Academic and Personal Success” pada Jumat, 14 November 2025, bertempat di Pusat kegiatan mahasiswa Polimedia. Seminar ini menghadirkan dua narasumber, diantaranya Christina Dumaria, dan Sandra M. W. Siregar yang dihadiri sejumlah mahasiswa dari berbagai program studi dan semester.

Seminar dibuka dengan pembahasan mengenai kecerdasan emosional oleh Christina Dumaria. Ia menekankan bahwa mahasiswa sering menghadapi tekanan akademik yang membuat cemas, panik, atau kehilangan fokus saat menghadapi ujian maupun tugas presentasi. Menurutnya, kunci dari kecerdasan emosional adalah resiliensi, kemampuan untuk bangkit kembali setelah mengalami tekanan. Christina menggambarkan resiliensi melalui analogi sederhana 

“Ibarat bola basket, harus bisa memantul kembali setiap kali dijatuhkan. Begitu juga dengan kita, harus mampu kembali seimbang setelah mengalami situasi kritis,” ujarnya.

Christina juga memperkenalkan konsep yang ia sebut sebagai fleksibilitas occupied, yaitu kemampuan seseorang untuk melihat situasi dari berbagai sudut pandang sekaligus menjaga kontrol terhadap pikiran yang tidak sehat. Ia menjelaskan bahwa pikiran negatif memang akan muncul, terutama menjelang ujian atau saat menghadapi situasi sulit. Namun mahasiswa dengan kecerdasan emosional yang baik mampu mengisi pikirannya dengan perspektif yang lebih sehat, misalnya dengan mengingat kembali keberhasilan yang pernah dicapai. 

Materi dilanjutkan oleh Sandra M. W. Siregar, yang membahas bagaimana disiplin dan kebiasaan produktif dapat membantu mahasiswa menjalani kehidupan akademik dengan lebih teratur. Menurut Sandra, mahasiswa harus mampu mengatur diri sesuai peraturan yang berlaku, termasuk dalam hal deadline dan komitmen akademik. Sandra juga menyoroti fenomena penurunan motivasi belajar yang sering terjadi pada mahasiswa semester dua dan seterusnya. 

“Motivasi belajar menurun bisa jadi karena sudah burnout atau stres akademik. Semester satu biasanya IPK masih bagus, tapi setelahnya mahasiswa mulai kewalahan dan akhirnya memilih untuk main saja,” ujarnya. 

Melalui seminar ini, ia berharap mahasiswa mampu mengenali ritme diri, mengatur energi, dan tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan mental. 

Ketua pelaksana seminar, Ananda Zaliyanti, menilai tema ini sangat relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa berada pada fase transisi menuju kedewasaan, di mana mereka dituntut mampu mengelola kebebasan, tanggung jawab akademis, serta tekanan sosial dan emosional. 

“Nilai utama dari seminar ini adalah meningkatkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya kecerdasan emosional dalam kehidupan akademik dan sosial, serta menumbuhkan sikap disiplin dan tanggung jawab pribadi,” ujarnya. 

Ananda menambahkan bahwa keberhasilan seminar biasanya terlihat dari keberlanjutan perilaku mahasiswa setelah kegiatan. Jika semakin banyak yang mendaftar konseling atau lebih terbuka bercerita dengan teman, berarti materi benar-benar berdampak.

Salah satu peserta seminar, Stevany Amelia, mahasiswa Desain Grafis, mengaku mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan ini. Ia tertarik mengikuti seminar karena topiknya relevan dengan kondisi mahasiswa yang sering kewalahan dalam menjalani aktivitas perkuliahan. 

“Yang paling menarik itu manajemen waktu dan ngatur prioritas. Materi emotional intelligence dari narasumber pertama juga ngena banget, karena itu masih jadi PR buat diri saya sendiri,” tuturnya. 

Ia berharap seminar seperti ini dapat digelar rutin setiap semester karena mahasiswa membutuhkan arahan saat beban akademik sedang padat.

Seminar ditutup dengan harapan bahwa seluruh materi yang disampaikan tidak hanya menjadi wawasan sesaat, tetapi benar-benar diterapkan mahasiswa dalam keseharian. Melalui pemahaman kecerdasan emosional dan disiplin yang lebih baik, mahasiswa diharapkan mampu menghadapi tekanan akademik dengan lebih sehat, produktif, dan terarah.

Teks : Nasywa Davina S.K.

Editor : Sabda Maulana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts