Jakarta, majalahketik.com — Berawal dari pemakaman umum khusus warga Eropa dan kalangan elite pada masa Batavia yang dibangun pada tahun 1795 di Jakarta Pusat, Museum Taman Prasasti kini menjadi museum terbuka yang menyimpan jejak sejarah kolonial. Kawasan ini diresmikan sebagai museum oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada tahun 1977 setelah seluruh jenazah dipindahkan, sehingga bekas area pemakaman tersebut bertransformasi menjadi ruang pelestarian sejarah dan budaya.
Museum ini memiliki luas 1,3 ha dengan cakupan koleksi berjumlah lebih kurang seribu koleksi nisan. Deretan nisan tersebut memiliki unsur yang unik karena dibuat dengan gaya arsitektur khas Eropa karena nisan-nisan tersebut diimpor langsung dari Italia.
Di balik suasananya yang syahdu, Museum Taman Prasasti banyak menyimpan cerita sejarah di dalamnya. Area ikonik yang sering dikunjungi pengunjung biasanya adalah tokoh-tokoh sangat terkenal. Di antaranya ada nisan H.F. Rohl ia merupakan direktur utama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) yang menjadikan cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Di museum ini juga terdapat makam Olivia Mariamne Raffles, istri dari Thomas Stamford Raffles. Kisa cintanya yang penuh dengan tragedi membuat tempat ini sering dikunjungi.
Berjalan lebih dalam, ada nisan Soe Hok Gie. Seorang aktivis keturunan Tionghoa yang turut menentang kediktatoran di era Orde Baru dan Orde Lama. Hingga saat ini, nisannya banyak dikunjungi para mahasiswa setiap Desember dalam rangka memperingati perjuangannya.
Tak hanya itu, ada nisan Marius Hulswit, ia adalah arsitektur yang mendirikan banyak bangunan penting di Indonesia seperti Museum Bank Indonesia, Gereja Katedral Jakarta, Gedung Balai Kota, dan lainnya.
Bergeser ke area lain, akan terlihat koleksi kereta jenazah dan peti jenazah bersejarah, termasuk peti yang pernah digunakan dalam prosesi pemindahan jenazah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Menurut Kepala Pemandu, Wahyudi bahwa karena museum ini terbuka hal itu membuat sedikit kesulitan saat proses menjaga koleksi. Namun, mereka tetap menerapkan dua strategi untuk menjaga keawetan nisan. Di antaranya ada perawatan ringan dan berat.
“Perawatan ringan hanya membersihkan nisan menggunakan air tanpa detergen, sedangkan perawatan berat kami serahkan ke pihak konservasi,” tuturnya.
Ia juga menambahkan atmosfer mistis yang sering dibicarakan orang-orang telah dihapuskan. Karena sejak tahun 1997, semua jenazah telah dikuburkan di Tanah Kusir atau dikembalikan oleh pihak keluarga.
“Kami juga membuat jalanan yang layak agar pengunjung merasa nyaman,” katanya.
Antusiasme pengunjung memuncak pada akhir pekan. Sejumlah warga memanfaatkan waktu luang mereka untuk datang bersama keluarga. Salah satu pengunjung, Meliza, yang kali keduanya mengunjungi Museum Taman Prasasti, mengaku menikmati suasananya yang adem dan tetap terjaga kebersihannya. Ia juga menambahkan, daya tarik museum ini adalah gaya arsitektur yang estetik dan instagramable.
“Menurutku waktu yang paling cocok ke sini pas pagi Siang juga bisa. Kalo sore agak takut ya.” tutur Meliza dengan raut wajah sedikit ngeri.
Meskipun masih ada sebagian orang yang memandang museum ini menakutkan, kunjungan ke Museum Taman Prasasti justru menawarkan pengalaman yang berharga. Di balik setiap koleksinya tersimpan kisah-kisah masa lalu yang dapat menambah pengetahuan sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap sejarah.
Dengan koleksi dan nilai sejarah yang dimilikinya, Museum Taman Prasasti menjadi destinasi yang patut dikunjungi. Jadi, jika Sobat Ketik sedang mencari tempat wisata edukatif, museum ini layak masuk dalam daftar tujuan perjalanan berikutnya!
Teks: Raisyah Nabila Putri
Editor: Andien T. Aprillia